KEMATIAN GAJAH MADA



Dijauhkannya Gajah Mada dari Ibu Kota Kerajaan Majapahit menurut beberapa contoh disebabkan Gajah Mada terlibat dalam perang Bubat yang menerima Raja Sunda beserta rombongan yang bermaksud mengawinkan Cita Rasemi atau Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk.


Selepas Gajah Mada bertempat tinggal di Madakaripura, Hayam Wuruk membentuk Dewan Pertimbangan Agung atau Bhatara Shapta Prabu untuk melaksanakan tugas-tugas Gajah Mada, anggotanya terdiri dari para keluarga Raja yang kompeten dalam pemerintahan, para keluarga Raja tersebut kemudian memilih Empu Tandi, Empu Nala Patih Dami, Empu Singa dan beberapa orang lain untuk menjalankan roda pemerintahan yang semula hanya di kepalai Gajah Mada.


Negara kertagama menyebutkan bahwa, pada Tahun 1285 Saka, Hayam Wuruk ke Candi Makam Simping. Selepas Pulang Hayam Wuruk mendapat kabar Gajah Mada sakit keras di Madakaripura, sehingga akhirnya pada 1286 Saka Gajah Mada kemudian wafat.


Selain dikabarkan dalam Negara Kertagama, riwayat kematian Gajah Mada juga di ceritakan dalam Naskah Kidung Sunda, hanya saja para Sejarawan umumnya tidak begitu mempercayai informasi yang terkandung dalan Kidung Sunda.


Menurut Kidung Sunda, Gajah Mada tidak meninggal karena sakit, tetapi karena moksa. Dalam Kidung Sunda dikisahkan bahwa selepas Gajah Mada membunuh rombongan Kerajaan Sunda termasuk Raja dan Putrinya, Paman Gajah Mada yang disebut sebagai Raja Kahuripan dan Raja Daha berniat membunuh Gajah Mada, mengetahui kabar tersebut akhirnya Gajah Mada memilih untuk “moksa”.


Sesudah Gajah Mada meninggal, Hayam Wuruk dikisahkan kesedihan, karena selain sulit menemukan sosok seperti Mahapatih Gajah Mada juga ia merasa khawatir dengan kondisi Kerajaan selepas ditinggal Gajah Mada. Meskipun demikian atas Rekomendasi dari Saptha Pabu akhirnya Hayam Wuruk mengangkat Mahapatih Baru, jabatan tersebut jatuh pada Gajah Enggon.


(***)