MAKNA & FILOSOFI MAHKOTA BINOKASIH SANGHYANG PAKE SERTA BAJU KEBESaran PENGANTIN KASUMEDANGAN


Setiap tahun, Mahkota Binokasih menjadi bagian dari Kirab Panji dan pusaka Sumedang. Namun, tidak banyak filosofi yang mengungkap kedalaman yang terkandung di dalamnya.


SEJARAH MAHKOTA BINOKASIH


Mahkota Binokasih, juga dikenal sebagai Binokasih Sanghyang Pake, merupakan simbol kebesaran dan kejayaan yang diwariskan dari Kerajaan Sunda Pajajaran hingga Sumedang Larang. Mahkota ini bersusun tiga, melambangkan konsep Tri Tangtu dalam kepercayaan Sunda.


Berdasarkan Carita Parahyangan, Mahkota Sanghyang Pake dibuat oleh Batara Guru di Jampang sebagai penanda penobatan Wastu Kancana menjadi Raja. Mahkota ini merupakan hasil dari tapa bakti dan merupakan tiruan dari mahkota Sanghyang Indra.


Hyang Bunisora ??memerintah Pakuan Sunda Pajajaran antara tahun 1357–1371, sebelum akhirnya digantikan oleh Wastu Kancana yang memerintah selama 103 tahun lebih. Saat Pajajaran jatuh pada tanggal 8 Mei 1579, empat Kandaga Lante yaitu pejabat tinggi kerajaan meninggalkan ibu kota dengan membawa pusaka kerajaan, termasuk Mahkota Binokasih. Mereka mencari pemimpin baru dan akhirnya menyerahkannya kepada Pangeran Geusan Ulun, penguasa Sumedang Larang, yang kemudian mengenakan mahkota tersebut saat dinobatkan sebagai Prabu.


Pada abad ke-19, Tumenggung Somanagara, cucu Pangeran Kornel, membuat mahkota baru dengan bentuk Binoka Sri yaitu serupa mahkota Batara Indra dan Batara Rama dalam wayang. Dari munculnya tradisi membuat replika Mahkota Binokasih untuk dikenakan oleh para keturunan dalam upacara pernikahan, memperkuat makna “Raja Sehari” bagi pengantin pria.


BENTUK DAN BAHAN MAHKOTA BINOKASIH


Mahkota ini dibuat dari emas dengan bagian dalam berlapis beludru. Bentuknya menyerupai mahkota Batara Indra dalam pewayangan, melambangkan kebesaran seorang raja.


Bagian-bagian utama mahkota:

 

• Puncak Kuluk: Dihiasi dengan stupa berbentuk kuncup bunga teratai.

 

• Hiasan Atas: Motif tumpal dan suluran.

 

• Hiasan Depan (Turidha): Berbentuk kelopak bunga dengan permata hijau.

 

• Hiasan Samping (Jamang & Ron): Berupa mahkota bunga serta ornamen berbentuk ikan dan jumbai menyerupai biji mentimun.

 

• Sumping: Hiasan berbentuk sayap bersusun tiga.

 

• Hiasan Belakang: Jungkat penatas berbentuk daun dan Garuda Mungkur.


FILSAFAT MAHKOTA BINOKASIH


Setiap elemen Mahkota Binokasih sarat dengan makna mendalam:

 

1. Nama Binokasih / Binoka Sri

Melambangkan keluhuran dan kebijaksanaan, sebagaimana sifat Batara Indra.

 

2. Stupa Kuncup Bunga Teratai

Melambangkan kesucian hati, cinta yang tulus, dan kesetiaan dalam rumah tangga. Enam kelopak bunga teratai melambangkan Rukun Iman.

 

3. Pakaian Pengantin

 

• Sinjang Rereng Barong: Dipakai dengan cara diddotkan, menandakan kesiapan memulai babak baru dalam kehidupan rumah tangga.

 

• Baju Kuning Berlengan Tiga Perempat: Warna kuning melambangkan keagungan.

 

4. Aksesoris Simbolis

 

• Kilat Bahu Ular Naga (untuk pengantin pria): Melambangkan kesiapan fisik dan mental dalam memikul tanggung jawab sebagai suami.

 

• Kilat Bahu Burung Garuda (untuk pengantin wanita): Mengajarkan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi suka duka pernikahan.

 

• Gelang Pasangan: Simbol kebulan hati dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

 

• Keris: Melambangkan kepahlawanan dan tanggung jawab seorang suami sebagai pelindung keluarga.

 

• Benten (Ikat Pinggang): Simbol pengendalian diri, menegaskan bahwa seorang kepala keluarga harus berani hidup jujur ??dan menahan diri dari perbuatan yang tidak baik.


TRADISI & KELANGSUNGAN WARISAN


Kini, setiap keturunan leluhur Sumedang yang menikah akan mengenakan Mahkota Binokasih sebagai bagian dari upacara adat. Museum Prabu Geusan Ulun pun memiliki tiga set replika mahkota ini untuk memastikan warisan budaya tetap terjaga.


Mahkota Binokasih bukan sekadar hiasan, melainkan simbol kejayaan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Sebuah pusaka yang terus mengajarkan nilai-nilai luhur bagi generasi penerus.


(***)