Adat Mendirikan Panghulu Di Onderafdeeling Fort van der Capellen

* Catatan Laporan Assistent-Resident Tanah Datar, 1890.
Didalam onderafdeeling ini terdapat 5 jalan akan mendirikan panghulu yaitu :
1. Hidup Bakarilaan atau Hidup Bakulipah.
2. Patah Tumbuh Hilang Baganti atau Patah Tumbih Ditanah Tasirah atau Ditanah Tabali.
3. Mambangkitkan Pusako Nan Tabanam atau Mangambang Kain Nan Balipek, atau Mambangunkan Andiko Nan Talatak.
4. Sawah gadang Dibanda-banda atau Gadang Ciék Dipaduo
5. Memperbuat Panghulu atau Manaikkan Kapalo Banda
- 1. Adapun Hidup Bakarilaan hanya terpakai dalam 5 laras saja yaitu :
- Laras Pariangan.
- Laras Tanjung
- Laras Pagaruyung
- Laras Gurun dan,
- Laras Salimpaung
(dida?am 8 laras yang lain tiada terpakai).
Adapun yang biasa disebutkan orang disini ..Hidup Bakulipah" jarang sekali „Hidup Bakarilaan". Terjadinya hal ini kaiau panghulu itu sudah tua yaitu "Bukik Indak Tadaki Laï, Lurah Indak Taturuni Laï", atau akan pergi naik haji atau pergi merantau (manggaleh). Untuk naik haji dan pergi merantau, tiada selalu panghulu itu Bakulipah, melainkan boléh juga menanam atau mengadakan wakil panghulu..
Jalannya bakulipah itu seperti yang tersebut dibawah ini :
Panghulu itu mengumpulkan segala panghulu yang separut dengan dia dirumahnya dan diterangkanlah maksudnya dengan menyampaikan kata-kata : Lurah tidak taturuni, bukik tidak tadaki, nan jauah tidak tajalang, nan barék tidak tapikua, nan ringan tidak tajinjing, rantau jauh tidak taulangi, rantau dakék tidak takundai (tajagai), hendak Mangulipah.
Panghulu Panghulu nan separut itu adalah segala penghulu yang sasuku dirumah Panghulu yang hendak bakulipah itu. Kemudian diterangkan dan ditunjukkannyalah siapa yang akan menggantikannya. Kalau segala panghulu yang hadir sesuai dengan pemilihan itu maka disahkannyalah bersama-sama. Kalau tidak sesuai dicari yang lain. Apabila segala panghulu-panghulu itu tiada dapat sekata, maka dimintak keputusan Nagari, yang biasanya tiada dapat dibanding lagi.
Sesudah itu barulah beralat menegakkan pangkulu akan pengganti yang berkulipah itu.
Didalam 8 laras yang lain, kalau seorang panghulu sudah tua tiada diganti, melainkan ditanam saja wakilnya dengan setahu segala panghulu didalam suku itu.
- 2. Mati nan Batungkek Budi.
Didalam onderafdeeling ini namanya „Patah Tumbuh Hilang Baganti". kebanyakan dengan menurut jalan inilah panghulu itu baru diganti.
- Di Sumanik terdiri dahulu gantinya, baru mayit panghulu yang meninggal itu dibawa kekubur.
- Di Pariangan dan Pagaruyung gala panghulu yang baru itu dipekuburan dihimbaukan (ditanah tasirah, ditanah tabali').
- Dinegeri yang lain mangangkat panghulu baru itu antara 1 sampai 100 hari sesudah panghulu itu meninggal.
- Di Rao-rao, Tanjung dan Padang Ganting, sehari setelah meninggal.
Kalau yang akan ganti panghulu itu tiada dirumah atau dirantau, maka sanak saudaranya yang dirumah memberi batando baalamat, biasanya sebuah gelang atau sebuah keris, kalau sudah pulang pengganti itu, baru diperalatkan menjadi panghulu.
Kalau belum ada yang akan gantinya dan seorang dari anak panghulu itu akan bersalin, atau yang akan gantinya itu masih kecil maka mengangkat panghulu yang baru itu diundurkan dahulu, dan dinamai sebagai Pusako atau Gadang Balipék atau Gadang Dipahatkan Ditiang Panjang.
- 3. Mambangkik Nan Tabanam.
Adat istiadat ini disebut masyarakat di Sumanik dan Salimpaung mambangkik-kan pusako nan tabanam dan di Rao-Rao disebutkan sebagai "Mangambang Kain atau Mangambang Baju Nan Balipék". Di Padang Ganting dan Pagaruyung namanya "Mambangunkan Andiko Nan Talatak'".
Jika yang hendak menjadi panghulu itu sudah sampai umurnya baru diperhelatkan.
- 4. Gadang Manyimpang"
Adat ini di Tanjung namanya: „Sawah Gadang Dikotak kotak. Di Pariangan, Sungai Jambu, Gurun, Rao-Rao, Pagaruyung, Saruaso, Salimpaung, V Kaum dan Sungai Tarab disebut dengan "Baju Sahalai Dipakai Baduo", dan di Sumanik disebut orang "Gadang Ciek Di Paduo".
Di Talawi dan Padang Ganting, adat ini tidak digunakan. Karena menurut adat "Bak Napuh Di Ujung Tanjung, Mati Saekor Baganti Saekor", maka atas kesepakatan 13 Laras, adat "Gadang Manyimpang" itu dimatikan.
Dalam bulan Juni 1888 panghulu-panghulu dalam selaras Salimpaung dihadapan toean Assistent-Resident Tanah Datar membuat mupakat bahwa panghulu-panghulu tiada ditambah lagi, melainkan di cukupkan sajalah kepada yang sudah ada. Sebagai tanda peringatan atas mupakat itu ditanamlah waktu itu 3 batang kandikir di Tanjung Alam.
- 5. Memperbuat Panghulu
Terjadinya yang serupa ini adalah karena :
Orang dari negeri lain "Tabang Manumpu, Hinggok Mancakam" disebuah negeri dan dinegeri itu sudah kembang biak pula. Kalau orang itu berkehendak, boléh pula membuat seorang panghulu dan gelar yang akan dipakainya diambil dari suku atau balahannya dipangkal tanahnya tadi.
(***)