"Kasino Sebelum Gabung Warkop" PART 1

Kasino lahir di Gombong, Jawa Tengah, pada 15 September 1950 dari pasangan Notopramono dan Kasiyem. Ayahnya pekerja di Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) dan sering berpindah tugas dari satu tempat ke tempat lainnya.
Kasino sempat mencicip masa kecil di Padalarang, Bandung, Jawa Barat. Saat duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, dia ikut ayahnya pindah ke Jakarta. Ayahnya sangat ketat dan disiplin dalam mendidik anak. Dia berharap anak-anaknya kelak bakal jadi pegawai negeri atau orang kantoran.
Kasino kecil pandai dalam pelajaran sekolah. Dia paling jago dalam pelajaran berhitung. Tapi di sisi lain, bakat humornya juga menonjol. Kasino mengaku sudah berkarib dengan humor sejak kecil.
"Humor memang sudah menjadi bagian hidupku sejak dulu," kata Kasino dalam "Biografi Kasino Warkop" termuat di majalah Vista, No. 550 tahun 1982.
Kasino mempunyai pelawak favorit:
Bing Slamet dan Mang Udel, dua komedian andal dari grup Trio Los Gilos. Bersama Mang Cepot, Bing dan Mang Udel mempelopori lawak dengan naskah. Mereka merajai panggung lawak dan siaran radio selama 1950-1960-an. Sebagian orang menyebut Los Gilos sebagai pelopor lawak cerdas.
Bing mahir menirukan suara anak kecil dan Bung Karno. Seluruh tubuhnya bisa menjadi sumber daya penunjang lawakan. Sedangkan Udel jago bermain ukulele dan berpegang pada naskah sebelum dan selama tampil di panggung. Terakhir Cepot, fasih membuat naskah humor yang berangkat dari idiom dan ungkapan masyarakat setempat.
Kasino bilang lebih memperhatikan gaya Bing dan Mang Udel setiap kali mereka tampil. "Kalau Bing Slamet main, ku amati gayanya. Kemudian esoknya dalam panggung kut Demikian pula Mang Udel, gaya-gayanya yang khas banyak mewarnai penampilanku dalam panggung-panggung sekolah," lanjut Kasino.
Selain gemar memperhatikan polah pelawak, Kasino kecil suka bicara ceplas-ceplos. "Apalagi ada orang yang bentuknya agak aneh, rasanya pengen nyeplos saja," ungkap Kasino. Dia telah terbiasa pula memirip-miripkan polahnya dengan polah orang lain.
Kasino merasa masa kecilnya penuh dengan kenakalan wajar. "Sebab masa itu masih murni. Kalau toh nakal, merupakan keindahan tersendiri untuk dikenang," kata Kasino.
Kasino pernah menghiraukan larangan orang tuanya berlari naik turun mengejar kereta api yang berjalan. Dia baru kapok dan sadar mengapa orang tuanya melarang perbuatan itu ketika menyaksikan temannya tewas setelah terjatuh dari sambungan kereta.
Menginjak masa remaja, Kasino mulai sering tampil di panggung sekolah. Dia bermain sandiwara bersama teman-temannya ketika ada acara tur sekolah. Biasanya dia tampil membawakan lawakan. Karena lawakan, namanya jadi tenar di antara teman-teman.
Polah kocak seorang lelaki remaja sering kali jadi jurus ampuh untuk memikat perempuan remaja. Kasino remaja tahu itu. Tapi orang tuanya melarang pacaran atau dekat-dekat dengan lawan jenis. "Pacaran boleh kalau sudah punya penghasilan," kata Kasino menirukan ucapan ayahnya.
Remaja periang dan usil seperti Kasino sesekali akan melanggar larangan. Dia sempat mencuri-curi kesempatan berdekatan dengan lawan jenis. Tapi sebatas saling lirik dan berpegangan tangan saja. "Anehnya, kalau cewek tersebut saya pegang tangannya, nurut. Tidak dikipatake (ditepis, red.)," ungkap Kasino.
Selain sesekali melanggar larangan pacaran, Kasino pernah pula mengabaikan larangan berkelahi dari orang tuanya. Dia sebenarnya bukan tukang kelahi. Tapi situasi membuatnya tak bisa menghindar dari perkelahian. Ceritanya ada tukang palak di dekat sekolahnya. Dia tak suka orang minta uang pakai cara begitu. "Terpaksa ku lawan. Terjadi pergumulan seru mempertahankan duit," cerita Kasino.
Ujungnya Kasino tak pernah berkelahi lagi. Dia berupaya keras memegang teguh pesan ibunya. "Wong ngalah iku duwur wekasane," kata sang ibu kepadanya. Artinya, orang mengalah itu tinggi harkatnya.
Alasan lainnya, Kasino tak mau kena tempeleng ayahnya. Menurutnya, kalau dia ketahuan terlibat perkelahian, ayahnya akan lebih dulu mengoreksi tingkah laku anaknya dengan memukulnya.
(***)