HIKAYAT KINCA DI TANAH BIMA
?Di bawah terik matahari yang menyengat dan bau tanah gersang Dana Mbojo, tumbuh sebatang pohon tangguh yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Kinca atau Kawi, sebuah tanaman yang membawa jejak sejarah jauh melintasi samudra.
Berasal dari dataran India selatan dan Sri Lanka, pohon ini menempuh perjalanan panjang melalui jalur perdagangan maritim dan penyebaran agama, hingga akhirnya menemukan "rumah kedua" di Bima. Karakteristik wilayah Bima yang semi gersang, panas, kering, dan berpasir ternyata menjadi pelukan yang sempurna bagi sang pengelana hijau ini untuk menghilangkan kuat dan menumbuhkan pinggiran kota.
?Kehadiran pohon kinca di Bima bukan sekadar tumbuh secara kebetulan. Di masa kejayaan Kesultanan Bima, pohon ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari lanskap budaya. Dengan batangnya yang kokoh dan berduri tajam, kinca sering ditanam sebagai pagar alami sekaligus peneduh di pelataran rumah penduduk.
Buahnya yang jatuh ke tanah membawa aroma kuat yang khas, segera menjadi kegemaran masyarakat untuk diolah menjadi rujak segar atau dikonsumsi langsung dengan balutan gula. Tak hanya pemuas lidah, kinca juga menjelma menjadi apotek hidup, di mana daging buahnya dipercaya turun-temurun sebagai obat mujarab untuk meredakan gangguan pencernaan.
?Jejak-jejak tertua dari pohon ini masih dapat kita temui hari ini, merentang dari pusat kota hingga pelosok desa. Di kawasan Museum Sejarah Asi Mbojo, pohon-pohon kinca yang sudah berusia puluhan tahun berdiri tegak di halaman istana, seolah menyimpan rahasia tentang selera para bangsawan masa lalu.
Namun, jika ingin melihat kemegahan kinca yang lebih kuno, mata harus memandang ke arah bukit-bukit di Soromandi dan membentangkan lahan di wilayah Bolo. Di sana, antara Desa Kananga dan Desa Bajo, tumbuh kinca-kinca raksasa batang dengan yang melilit dan kulit kayu berkerak tebal— sebuah penanda usia yang melampaui generasi manusia.
Kini, kinca tidak lagi hanya dianggap sebagai buah pembohong yang tumbuh di batas lahan. Pohon yang dulu dibawa oleh para pedagang kuno ini telah naik kelas, menjadi identitas ekonomi baru melalui sirup, dodol, dan selai kinca yang manis-sepat.
Dari sebuah biji yang terbawa kapal melintasi samudra, kinca telah mengakar menjadi bagian dari jiwa dan sejarah tanah Bima, terus bertahan di tengah cuaca panasnya, menceritakan kisah tentang ketangguhan dan keberlangsungan hidup. (***)
Salaja, 08/01/2026
Efen Ramecy