"ORANG PULANG"


Di kampung tempat kelahiran ibuku, pernah hidup seorang pencuri yang membuat malam-malam kehilangan ketenangan


Bukan karena seringnya dia datang, melainkan karena siapa dia sebenarnya.

Ia bukan sekedar mencuri—ia adalah ketakutan yang berjalan, bisik-bisik yang membuat orang memilih mengunci pintu lebih awal dan menjamin pelita lebih cepat.


Orang-orang tahu siapa dia.

Banyak yang pernah melihat bayangannya membenarkan di batas halaman.

Namun tak satu pun berani menyentuhnya.

Bukan karena ia kebal senjata, tapi karena ada sesuatu pada dirinya—sesuatu yang membuat keberanian runtuh sebelum sempat berdiri.


Hingga suatu hari, seorang paman kerabat saya—kami menemukan Paman Bin—memilih berhenti menjadi penonton.


Ia menunggu di jalan yang sunyi, di tikungan yang biasa dilalui pencuri itu saat senja mulai turun.

Ketika sosok itu melintas, Paman Bin langsung menyergapnya.


Perkelahian pun—terjadi, dan berakhir dengan tubuh sang pencuri terhempas ke tanah.

Kepalanya dipenggal.


Namun waktu mempermainkan akal sehat.

Beberapa lama kemudian, kepala itu menyatu kembali dengan tubuhnya

Seakan kematian hanya berhenti sebentar, lalu pergi.


Perkelahian terulang.

Paman Bin merobohkannya lagi.

Kali ini tubuh itu dicincang menjadi beberapa bagian

Tapi tak lama kemudian, potongan-potongan itu kembali menyatu, seolah-olah tanah itu sendiri mengembalikannya pada bentuk aslinya.


Untuk ketiga kalinya, pencuri itu tumbang.

Dan kali ini Paman Bin melakukan apa yang dianggap sebagai akhir yang tak bisa ditawar.

Tubuh itu dibelah dua.

Kepalanya dipenggal dan digantung di pohon.

Satu bagian badannya dikubur di tempat itu juga, dan satu bagian lagi dikubur di seberang Sungai Belayan.

Barulah kali ini ia benar-benar berhenti.


Paman Bin menyerahkan diri ke kantor polisi.

Ia menjalani hukuman dua puluh tahun penjara.

Dua puluh tahun yang sunyi, panjang, dan berat.


Hari ketika ia bebas, ia sering duduk di tepi jalan, berbincang dengan kawan-kawannya.

Suatu sore, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berjalan bersama ayahnya.

Anak itu tiba-tiba mendekat, menendang punggung Paman Bin, lalu berkata dengan suara kecil tapi tegas:


“Tunggu aku sudah besar. Akan kubalas dirimu.”


Paman Bin leher.

Matanya menua sesaat.

Lalu ia tersenyum


Karena ia tahu.

Anak itu adalah Orang Pulang—

mereka yang kembali dari kehidupan masa lalu


Di antara kami, orang Dayak Tunjung, kami percaya, membayangkan itu nyata.


Orang Pulang bukan hanya membawa kenangan,

tapi juga perilaku, kebiasaan, bahkan tanda lahir yang sama dengan kehidupan sebelumnya.


Ia bukan sekadar anak kecil.

Ia adalah jiwa lama yang pulang ke dunia,

membawa janji yang belum sempat Lunas.

Dan sebagian kisah…

tidak pernah benar-benar berakhir. (***)