"EPILOG~~PONDOK DI TEPI GOA"


Tiga liang lahat di sampingnya kini berdiri di tanah yang menghadap hulu sungai.

Orang-orang kampung menanam pohon ulin kecil di atasnya, berharap akar-akar kuatnya mampu menahan luka masa lalu agar tak merembes ke generasi berikutnya.


Namun tanah tidak pernah benar-benar lupa.

Beberapa bulan setelah peristiwa itu, seorang petani membangun sebuah pondok kecil di dekat kaki bukit—tak jauh dari mulut goa. Pondok itu awalnya hanya tempat berteduh bagi orang-orang ladang, beratap rumbia, berdinding kulit kayu.


Akan tetapi, sejak pondok itu berdiri, orang-orang mulai merasakan hal aneh.

Api pelita sering padam sendiri. Udara di tempayan terasa lebih dingin dari biasanya. Dan pada malam-malam tertentu, terdengar suara dayung menyibak air—padahal sungai kosong.


Orang-orang tua mulai berbisik:

“Di situ ada janji yang dikhianati.

Di situ ada cinta yang tak sempat pulang.”


Seorang anak lelaki bernama Suma, cucu dari petani pemilik pondok, sering bermimpi melihat seorang perempuan duduk di beranda rumah tua, menunggu dua lelaki yang tak pernah kembali.

Dalam mimpinya, perempuan itu selalu berkata:


“Kalau kau mendengar suara dayung perahu tanpa…

itu berarti ada kerinduan yang belum selesai.”


Ibunya mengira itu hanya mimpi masa kanak-kanak.

Tapi Suma selalu bangun dengan mata basah, seolah dia ikut kehilangan sesuatu yang tak pernah dia miliki.


Suatu senja, saat kabut turun rendah, Suma bermain di pondok. Ia mendengar suara langkah dari dalam goa—bukan langkah berat, tapi seperti orang yang berjalan perlahan, hati-hati.

Ia.


Tak ada siapa-siapa.

Namun di lantai goa, ia melihat jejak kaki yang samar—

jejak kaki telanjang yang berhenti tepat di batas cahaya matahari.

Sejak hari itu, pondok tak pernah kosong.

Selalu ada rasa “ditunggu”.


Kini orang-orang kampung menyebut tempat itu:

Pondok Penunggu Tiga Nama

Tak ada yang berani menebang pohon di sekitarnya.

Tak ada yang berani berteriak atau berkata kasar di sana.


Karena mereka percaya:

Di sanalah Lung masih menunggu kebenarannya.

Di sanalah Bulan masih menunggu jawaban.

Dan di sanalah Lawing masih menunggu pengampunan.


Dan setiap kali angin dari hulu datang membawa suara dayung tanpa perahu, orang-orang tahu—

Bukan hantu yang lewat.

Melainkan kenangan yang belum selesai.

#fiksi