TGH Abubakar H. Abidin


Bagian II


Di saat Abubakar muda menuntut ilmu di Darul Ulum Bima, perjalanannya tidak semulus yang dikira. Sama seperti para santri yang berjihad menuntut ilmu, ia pun diuji oleh Allah SWT melalui penyakit yang membuatnya tidak bisa hadir dalam waktu yang cukup lama.


Namun saat Abubakar sedang berobat di rumahnya di Desa Nata, Kabupaten Bima, di bawah asuhan sang ibu (Ato Mare), tiba-tiba datang kabar bahwa ada seorang ulama tersohor dari Madrasah Darul Ulum Makkah Al-Mukarramah yang pulang ke tanah air (Bima) untuk berkhidmat kepada masyarakat. Seketika sang ibu berucap sambil mengelus kepala Abubakar, "Cepatlah sembuh, Nak. Sudah datang ulama besar dari Makkah tempatmu nanti belajar."


Tibalah masanya Abubakar kembali ke Madrasah Darul Ulum Bima untuk melanjutkan proses menuntut ilmu. Saat masuk ke ruang kelas, secara kebetulan jadwal mengajar saat itu adalah jadwal ulama tersohor tersebut. Di dalam kelas, Abubakar muda memiliki kebiasaan duduk di pojok kanan depan. Ketika kelas berlangsung, ulama tersebut menulis soal dan bertanya kepada murid-muridnya, "Siapa yang bisa menjawab soal ini?" Maka, Abubakarlah yang paling cepat mengangkat tangan untuk menjawab soal yang diberikan oleh gurunya.


Bersambung ke Bagian III

(Penulis: Zainul Muttaqin, S.Hum., M.Si.)


(***)