HAMPIR TIDAK ADA YANG TAHU NAMA INI, PADAHAL TANPA DIA, PESAWAT, PESAWAT TEMPUR INDONESIA DI ERA KEMERDEKAAN TIDAK BISA TERBANG
Asian Games 2018 melahirkan dua nama yang mengharumkan Indonesia di cabang jetski: Aero dan Aqsa Sutan Aswar. Tapi di balik nama belakang mereka sandang, ada warisan yang jauh lebih tua dan jauh lebih besar dari sekadar medali.
Kakek mereka, Sutan Aswar, adalah orang yang membuat pesawat-pesawat Republik Indonesia bisa terbang di masa ketika seluruh negeri sedang berjuang mempertahankan kemerdekaan.
Sutan Aswar lahir di Padang, Sumatera Barat, pada tanggal 23 Juni 1925. Sejak muda ia sudah menunjukkan kecerdasan yang tidak biasa untuk anak dari Ranah Minang. Ia berhasil masuk ke Technische Hoogeschool, institusi pendidikan teknik tertinggi di Hindia Belanda yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung. Tapi sebelum studinya tuntas, arus sejarah menariknya ke arah yang berbeda. Indonesia merdeka. AURI baru berdiri. Dan negeri ini membutuhkan orang-orang muda yang tidak hanya pintar, tapi juga berani.
Sutan Aswar adalah keduanya.
Pada akhir tahun 1947, AURI menghadapi masalah yang mengancam keseluruhan kemampuan tempurnya: bahan bakar pesawat. Indonesia yang baru merdeka tidak memiliki industri pengolahan avtur sendiri. Sementara Belanda dengan agresi militernya yang terus menekan, blokade membuat pasokan bahan bakar dari luar nyaris mustahil.
Komodor Udara Halim Perdanakusuma — nama yang kelak diaabadikan sebagai nama bandar udara internasional di Jakarta — melihat satu kemungkinan. Ia menunjuk OMU-2 Sutan Aswar untuk menangani jawatan minyak di Jambi, dibantu SMU Mardjoeki.
Misinya: membuat sendiri bahan bakar untuk pesawat republik.
Pada tanggal 28 Desember 1947, Tetra Ethyl Fluid (TEL) — zat aditif kimia yang diperlukan untuk menaikkan jumlah oktan bensin — dikirim dari Yogyakarta ke Sumatera. TEL itu berasal dari Pabrik Minyak Cepu, sisa-sisa pabrik era 1942. Dari Pekanbaru, muatan berharga itu diangkut lewat darat melalui Bukittinggi menuju Jambi.
Di Jambi, Sutan Aswar menemukan kenyataan yang mengurungkan semangat siapa pun: alat-alat yang tersedia adalah instalasi darurat peninggalan Jepang yang sangat sederhana dan jauh dari standar minimum untuk menghasilkan bensin pesawat. Satu-satunya orang dari Pabrik Minyak Jambi yang bisa membantu hanyalah seorang tukang yang tahu cara kerja alat-alat itu, tapi sama sekali tidak memahami proses kimia pembuatan bensin udara.
Semua kondisi itu mengarah ke satu kesimpulan: ini mustahil dilakukan.
Namun Sutan Aswar tidak menerima kesimpulan itu.
Bersama SMU Mardjoeki dan satu orang tukang tersebut, ia memulai proses pembuatan bensin pesawat — dengan risiko dan tanggung jawab penuh ada di pundaknya sendiri. Prosesnya berlangsung berbulan-bulan. Pada akhir Februari 1948, hasil pertama diperoleh. Tapi ketika diperiksa ke Pabrik Minyak Cepu sebagai standar, hasilnya belum memenuhi syarat bensin udara. Sutan Aswar tidak menyerah. Ia terus melakukan perbaikan komposisi dan proses.
Lalu datanglah momen yang menentukan.
Pada bulan Maret 1948, sebuah pesawat Anson datang ke Jambi. Pesawat itu harus mengisi bahan bakar. Tidak ada pilihan lain yang tersedia. Dan Sutan Aswar, dengan berani sekaligus penuh perhitungan, menyatakan bahwa bensin udara yang ia buat sudah siap pakai.
Pesawat Anson itu lepas landas. Mesinnya menyala sempurna. Ia terbang.
Itulah saat pertama dalam sejarah Indonesia, pesawat militer republik terbang menggunakan bahan bakar buatan anak bangsa sendiri. Dari blokade tanah Jambi yang terkepung, dengan alat-alat bukti peninggalan penjajah, Sutan Aswar membuktikan bahwa keterbatasan tidak bisa menghentikan kecerdasan yang terarah.
Bensin udara hasil kerjanya memiliki spesifikasi oktan 91 untuk pesawat Anson dan C-47 Dakota, serta oktan 80 untuk pesawat Stinson. Sejak keberhasilan itu, bensin udara dari Jambi terus digunakan dan disempurnakan hingga dipakai di seluruh Indonesia.
Kariernya setelah kemerdekaan tidak kurang berpengaruh. Sutan Aswar menjabat sebagai Direktur Perminyakan dan Angkutan ABRI, anggota Hakim Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), dan anggota MPR-DPR RI Fraksi ABRI periode 1966-1976. Negara menganugerahinya berbagai penghargaan tertinggi: Bintang Dharma, Bintang Gerilya, dan Bintang Swa Bhuwana Paksa.
Sutan Aswar wafat di Jakarta pada 27 Agustus 2006 di usia 81 tahun. Namanya tidak sepopuler para pahlawan yang namanya tercetak di uang atau diabadikan sebagai nama jalan besar. Tapi setiap pesawat TNI AU yang pernah terbang di atas langit Indonesia di era revolusi — membawa semangat kemerdekaan yang harus dijaga — melakukannya dengan bahan bakar yang pertama kali dibuat oleh seorang pemuda Minang yang menolak menyerah pada keterbatasan.
(""*)