BAGIAN 2: TEKUKNYA SANG TIRAN DAN FAJAR KESULTANAN BIMA
PENGKHIANATAN BERDARAH DI TANAH MBOJO: Runtuhnya Angkara dan Lahirnya Kesultanan Bima (Bagian 2 - Selesai) ??????
Sebuah kisah dari malam kelam kudeta Manuru Salisi (Mantau Asi Peka), dan kisah para pengungsi sang pewaris sah, La Kai, menembus ombak menuju tanah Sulawesi.
1. Menjemput Cahaya di Seberang Samudra
Menjejakkan kaki di bumi Kesultanan Gowa-Tallo, La Kai dan para loyalisnya tidak sekadar menemukan suaka politik, melainkan sebuah fajar spiritual. Di bawah bimbingan luhur Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro, sang pangeran merengkuh kebenaran Islam. Dua kalimat syahadat berkumandang, mentransformasikan dirinya menjadi Sultan Abdul Kahir. Peristiwa sakral ini adalah titik balik alam semesta—sebuah ikrar yang kelak mengubah total garis takdir Dana Mbojo untuk selamanya.
2. Nestapa menyanyikan Diktator dan Rapuhnya Singgasana
Kabar tentang bangkitnya sang putra mahkota di seberang lautan mengirimkan getaran ketakutan ke jantung kekuasaan Manuru Salisi. Di atas takhta yang ia bangun dari darah saudaranya sendiri, sang diktator didera rasa itu. Ia memperkuat barikade istana dan aliansi politik yang dipaksakan. Namun, ia lupa: kekuasaan tanpa legitimasi rakyat dan restu Majelis Adat adalah istana pasir yang menunggu runtuh. Ketakutan akan tirani meluasnya skala konflik, dari sekadar intrik domestik menjadi konfrontasi regional yang membakar konstelasi Nusantara.
3. Tiga Gelombang Badai dari Gowa
Kebenaran sejarah tidak dapat dipenjara, dan keadilan menolak untuk dibungkam. Berdiri tegap di sisi kebenaran, Kesultanan Gowa-Tallo mengirimkan badai penghakiman. Tidak tanggung-tanggung, tiga gelombang ekspedisi militer raksasa dikerahkan menuju Tanah Mbojo demi menumbangkan tirani.
Pada puncaknya, laskar gabungan yang perkasa—perpaduan barisan tempur Gowa, Tallo, Bone, dan para pejuang loyalis Mbojo yang rindu akan keadilan—merangsek bak air bah. Mereka menjebol benteng-benteng keangkuhan dan melumat habis pasukan sang tiran tanpa sisa.
4. Akhir Hina menyanyikan Pengkhianat dan Fajar Baru Bima
Melihat kemajuannya runtuh menjadi debu, ego Manuru Salisi hancur total. Sang diktator melarikan diri dalam kehinaan yang paling sunyi ke pedalaman Desa Mata, Kec. Tarano, Kab. Sumbawa (Dekat Desa Kwangko, Kab.Dompu), hingga maut menyambutnya dalam pengungsi. Jasadnya kini terbujur kaku di Rade Muma, Dekat Desa Kwangko—sebuah monumen abadi tentang akhir dari sebuah keserakahan.
Dari puing-puing tirani, Sultan Abdul Kahir pulang membawa panji kemenangan dan kedamaian. Beliau dinobatkan sebagai Sultan Bima Pertama pada tanggal 5 Juli 1640 M. Sebuah tarikh keramat yang hingga detik ini kita agungkan sebagai Hari Jadi Bima.
Refleksi Sejarah: Kekuasaan yang dirampas dengan lumuran darah, fitnah, dan pengkhianatan, niscaya akan runtuh dalam kehinaan yang sedalam-dalamnya.
Sejarah selalu punya cara untuk mengembalikan kebenaran kepada pemilik yang sah.
Jasmerah—Jangan Sekali Kali Melupakan Sejarah. (***)