Ina Ka'u Mary

Dr.Hj. Siti Maryam Salahuddin, Putri Sultan Bima Terakhir, lahir pada 13 Juni 1927 dan wafat pada 18 Maret 2017 di usia 90 tahun. Ia dikenal sebagai Ina Ka'u Mary dan merupakan salah satu penerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada tahun 2019. Bintang Mahaputera Nararya adalah salah satu tanda kehormatan tertinggi di Indonesia yang diberikan kepada warga negara Indonesia yang telah memberikan jasa luar biasa bagi bangsa dan negara. Tanda kehormatan ini diberikan oleh Presiden Republik Indonesia.


Siti Maryam lahir dan besar di lingkungan Kesultanan Bima, putri dari Sultan Muhammad Salahuddin, sultan terakhir Kesultanan Bima yang memimpin masa kolonial Belanda hingga awal kemerdekaan Indonesia. Di kalangan masyarakat Mbojo, beliau dikenal dengan gelar adat: Ina Ka'u, sebuah penghormatan budaya bagi perempuan tua adat yang dihormati karena ilmu, kebijaksanaan, dan pengaruh sosialnya.


Siti Maryam memiliki latar belakang pendidikan yang baik dan memulai karir sebagai birokrat di Jakarta, menjabat sebagai staf ahli Menko Kehakiman RI. Beliau menempuh pendidikan di Hukum Universitas Indonesia sekitar tahun 1953–1960 dan melanjutkan studi filologi di Universitas Padjadjaran, meraih gelar doktor Fakultas filologi pada usia lebih dari 80 tahun.


Siti Maryam aktif dalam melestarikan naskah-naskah kuno Kerajaan Bima dan membangun Museum Samparaja pada tahun 1987. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk meneliti, membaca, menerjemahkan, dan menyelamatkan manuskrip kuno Bima yang ditulis menggunakan aksara Arab Melayu dan aksara tradisional Bima (Bo). Naskah-naskah tersebut berisi sejarah Kesultanan Bima, hukum adat, silsilah kerajaan, catatan pemerintahan, sastra klasik, hubungan diplomatik, serta perkembangan Islam di wilayah timur Nusantara.


Siti Maryam pernah menjabat sebagai anggota DPR/MPR RI selama dua periode, yaitu dari tahun 1987-1997, dan staf pengajar di Universitas Mataram hingga akhir tahun 1980-an. Dedikasinya terhadap pelestarian budaya kemudian lahirlah Yayasan Kebudayaan Samparaja yang berfungsi sebagai pusat dokumentasi sejarah, penelitian budaya, dan penyimpanan manuskrip Kesultanan Bima.


Siti Maryam merupakan sosok yang melestarikan dalam melestarikan warisan budaya dan sejarah Kerajaan Bima, serta memiliki peran penting dalam pengembangan masyarakat Bima. Ia juga dikenal sebagai ibu yang peduli dan memiliki hubungan yang erat dengan keluarga dan masyarakat. Siti Maryam meninggalkan warisan yang berharga bagi masyarakat Bima dan Indonesia, terutama dalam bidang pelestarian budaya dan sejarah.


Mari kita luangkan waktu sejenak untuk mengirimkan doa Al-Fatihah kepada Almarhumah Dr. Hj. Siti Maryam Binti Salahuddin. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya dan menempatkannya di tempat yang mulia. Aamiin ya robbal aalamiin.

(***)