Kivlan Zen: Dari Anak Tukang Jagal Sapi, Aktivis Mahasiswa, hingga Jenderal Kontroversial



Nama Mayjen (Purn) Kivlan Zen kembali menjadi perhatian publik di tengah dinamika politik nasional yang melibatkan para purnawirawan TNI. Menariknya, di saat sejumlah jenderal senior terbelah dalam dua kubu terkait usulan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, nama Kivlan Zen justru tidak tampak berada di pihak manapun.


Padahal, selama era reformasi, Kivlan dikenal sebagai salah satu “jenderal politik” yang nyaris selalu hadir dalam pusaran isu nasional. Sosoknya dikenal vokal, keras, dan berani menyampaikan sikap politik secara terbuka.


Kivlan merupakan pendukung setia Prabowo Subianto sejak Pilpres 2014 hingga 2019. Ketika Prabowo kalah pada Pilpres 2019, Kivlan menjadi salah satu tokoh yang paling keras menyuarakan dugaan kecurangan pemilu. Bahkan namanya sempat terseret kasus dugaan makar dan kepemilikan senjata api ilegal hingga akhirnya menjalani proses hukum.


Namun jauh sebelum dikenal sebagai tokoh kontroversial, perjalanan hidup Kivlan Zen sesungguhnya penuh perjuangan dan kisah yang tidak banyak diketahui publik.


Lahir di Langsa, Aceh, pada 24 Desember 1946, Kivlan berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Muhammad Zein, adalah pedagang sekaligus jagal sapi keturunan Pakistan Punjab, sementara ibunya, Husna Nur, berasal dari Minangkabau.


Masa kecil Kivlan diwarnai kehidupan keras. Saat Agresi Militer Belanda II, keluarganya mengungsi ke Medan. Di kota itulah Kivlan tumbuh menjadi anak yang dikenal bandel, keras kepala, tetapi bertanggung jawab.


Sejak usia belia, ia sudah membantu orang tuanya mencari nafkah. Kivlan pernah mengayuh becak untuk mengangkut daging dari rumah potong hewan ke pasar, membawa sembako ke warung ibunya, hingga berjualan roti demi mengganti kaca rumah yang pecah akibat ulahnya sendiri.


Kerja keras itu membentuk mentalnya menjadi pribadi yang tahan banting.


Setelah lulus SMA pada 1965, Kivlan sebenarnya sempat diterima di jurusan Geografi ITB. Namun hatinya tidak tertarik. Ia kemudian masuk Fakultas Kedokteran UISU di Medan sambil aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).


Di masa kuliah, Kivlan aktif dalam gerakan mahasiswa anti-PKI pasca peristiwa G30S. Ia bergaul dengan banyak tokoh HMI nasional seperti Akbar Tandjung, Ridwan Saidi, hingga Nurcholish Madjid.


Meski begitu, cita-citanya menjadi tentara tak pernah padam.


Pada 1967, tanpa sepengetahuan ayahnya, Kivlan mendaftar Akabri dan berhasil lolos. Ia meninggalkan bangku kuliah kedokteran demi mengejar impian menjadi prajurit.


Di Akabri, Kivlan dikenal aktif dan menonjol. Ia bahkan menjadi pendiri sekaligus Ketua Dewan Musyawarah Taruna pertama pada 1970. Setelah melewati pendidikan keras di Magelang, ia lulus pada 1971 sebagai salah satu taruna terbaik.


Namun perjalanan karier militernya tidak selalu mulus.


Kivlan sebenarnya bercita-cita menjadi anggota Kopassus. Ia sempat mengikuti Pendidikan Komando di Batujajar. Akan tetapi, sebuah kejadian unik justru membuatnya gagal memperoleh wing komando.


Saat latihan survival, Kivlan diminta seniornya, Subagyo HS, mencari makanan karena para peserta latihan kelaparan. Dengan nekat, ia menyelinap ke kantin pelatih dan berhasil membawa makanan tanpa ketahuan.


Tetapi masalah muncul ketika makanan itu diketahui pelatih. Kivlan akhirnya mengaku bertanggung jawab atas seluruh tindakan tersebut. Ia bersama Hadi Utomo yang kelak menjadi Ketua Umum Partai Demokrat dinyatakan tidak lulus Pendidikan Komando karena ketahuan menyimpan makanan saat latihan.


Kegagalan itu membuat Kivlan kecewa berat. Ia pulang ke Cijantung tanpa mengenakan wing komando yang menjadi kebanggaan para prajurit Kopassus.


Namun kegagalan tersebut tidak menghentikan langkahnya.


Atas saran atasannya, Kivlan kemudian memilih bertugas ke daerah operasi di Irian Jaya (Papua). Di sanalah karier tempurnya mulai bersinar. Ia dikenal sebagai prajurit lapangan yang keras, berani, dan memiliki pengalaman tempur panjang di lingkungan Kostrad.


Kariernya terus menanjak hingga akhirnya menjadi Kepala Staf Kostrad pada 1998, mendampingi Letjen Prabowo Subianto yang saat itu menjabat Pangkostrad.


Sejak reformasi bergulir, nama Kivlan Zen tetap menjadi sosok yang sulit dipisahkan dari dinamika politik nasional. Terlepas dari kontroversi yang mengiringinya, perjalanan hidup Kivlan adalah kisah tentang kerja keras, keberanian, kegigihan, dan lika-liku seorang prajurit yang tumbuh dari kehidupan sederhana hingga mencapai jajaran elite militer Indonesia.

(***(