Menenun Asa di Tanah Pacubbe: Jejak Peluh, Kehangatan Cinta, dan Buah Manis Pengabdian Sang Guru Mursyid

#INSPIRASI_GuruMursyid_Pacubbe




Oleh: Suhardin, S.Pd., MM


Menatap masa lalu adalah membuka kembali lembaran narasi yang ditulis dengan tinta air mata, peluh, dan keteguhan jiwa. Terhitung mulai tanggal *01 Juli 1993*, sebuah masa di mana raga ini, sebagai generasi alumni pertama PGSD IKIP Ujung Pandang sekarang UNM (Universitas Negeri Makassar), melangkah pasti memeluk takdir. Kami adalah garda terdepan yang dibentuk oleh kawah candradimuka kampus untuk menjadi guru siap pakai di Sekolah Dasar Non-Inpres—siap adaptif, tangguh, dan menyerahkan seluruh jiwa raga demi mencerdaskan kehidupan bangsa di mana pun kaki dipijakkan.


Tugas pertama berdasarkan SK pengangkutan itu membawa saya ke *SDN 75 Pacubbe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan*. Sebuah wilayah yang kala itu masih berselimut sunyi, tanpa cahaya listrik, dan dipisahkan oleh infrastruktur yang menguji batas kesabaran manusia. Namun di sanalah, petualangan batin dan pengabdian hakiki dimulai.


*Di Antara Batu, Lumpur, dan Sunyi: Keteguhan di Batas Fisik*


Mengingat tahun 1993 teringat perjuangan fisik yang menyayat hati. Jalanan menuju sekolah bukanlah aspal mulus, melainkan hamparan batu-batu tajam yang siap mengoyak alas kaki. Ketika musim hujan menyapa, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur pekat yang langkah langkahnya.


Kesedihan dan tantangan terdalam mencuat ketika cuaca buruk mengisolasi wilayah tersebut. Karena kondisi geografis yang ekstrem, ada kalanya rekan sejawat terjebak dalam perjalanan. Namun, roda pendidikan tidak boleh berhenti. Di sanalah mentalitas "guru kelas siap pakai" diuji hingga batas tertingginya.


Dalam satu satu waktu, di bawah atap sekolah yang berbunyi nyaring dihantam air hujan, saya harus berlari dari kelas 1 hingga kelas 6. Menenangkan tangis anak kelas 1, memberikan materi untuk kelas menengah, sekaligus menjaga fokus kelas 6 yang bersiap menghadapi masa depan.


Ketiadaan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) adalah kenyataan yang harus dihadapi kapan saja. Saat bel berbunyi dan ruang kelas kosong, saya harus melangkah ke depan kelas—berubah peran menjadi guru agama, melantunkan ayat-ayat suci, mengajarkan rukun iman, dan menanamkan akhlak mulia. Di hari lain, baju dinas ini harus siap berganti peluh di lapangan berbatu, memandu mereka berolahraga dalam keterbatasan. Menjadi penopang segala lini di tengah kegelapan tanpa listrik adalah kepasrahan sekaligus pengorbanan yang menguras udara mata.


*Ketulusan yang Meruntuhkan Jarak: Surga Kecil di Rumah Reot nan Kumuh*


Di balik beratnya medan fisik, Allah SWT menitipkan penawar rindu berupa ketataan siswa yang tiada banding. Di Pacubbe, kami tidak mengenal istilah *ma'kalasi* (main kucing-kucingan). Anak-anak didik kami tumbuh dengan rasa hormat dan kepuasan yang lahir murni dari lubuk hati.


Saya bersama sahabat seperjuangan, *Pak Anwar AN*, tinggal di perumahan sekolah yang kondisinya sudah reot, kumuh, dan nyaris rubuh. Namun, rumah yang ringkih itu selalu terasa seperti istana yang penuh berkah. Setiap pagi buta, saat kabut tipis masih menyelimuti Pacubbe, kebahagiaan kami sudah membuncah. Tanpa pernah diminta, anak-anak dengan riang gembira telah memenuhi bak air kami. Mereka rela berjalan kaki, mengangkut udara dari sumbernya yang cukup jauh, menempuh jarak sekitar 600 meter dari pemukiman warga demi memastikan guru-guru mereka bisa bersiap mengajar dengan nyaman.

Kebahagiaan itu berlanjut hingga senja. Bakda Ashar hingga bakda Magrib menjelang Isya, lelah kami luruh saat memandangi wajah-wajah suci anak-anak di rumah seorang tokoh masyarakat yang sangat hidup, *Pak Adam*. Di sana, saya membimbing mereka membaca Iqra', memperbaiki bacaan melalui *tahsin*, hingga membimbing bait-bait *tahfidz* Al-Qur'an. Suara lantunan ayat suci yang menggema di tengah kegelapan malam Pacubbe adalah kemewahan spiritual yang menyejukkan jiwa.


*Penghormatan Setinggi Langit dari Masyarakat Pacubbe*


Masyarakat Pacubbe adalah ketulusan dan kasih sayang yang sejati. Mereka menempatkan guru pada derajat yang sangat mulia. Setiap hari, warga seperti memiliki jadwal tidak tertulis untuk bergantian berkunjung ke perumahan sekolah kami yang reot dan kumuh, sekadar untuk menemani bercerita, bergurau, dan menghibur kami agar tidak merasa sepi.


Begitu tingginya penghargaan mereka, saya, Pak Anwar, dan Pak A. Rohim telah dianggap sebagai tokoh sentral. Di tanah ini, sebuah hajatan besar seperti pernikahan atau kenduri warga *seakan belum bisa dimulai* jika kami belum menginjakkan kaki di tempat acara. Dan kehormatan itu kian lengkap saat kami dipersilakan duduk di barisan paling depan, bersanding erat dengan tokoh-tokoh penting di Pacubbe.


Tidak sampai di situ, kebaikan masyarakat seolah tiada habisnya. Setiap hari, selalu saja ada warga yang menjemput kami untuk makan siang atau makan malam di rumah mereka. Terlebih lagi saat musim ulangan umum atau ujian akhir tiba, suasana sekolah berubah menjadi pesta kesyukuran. Secara bergiliran, para siswa *mappaNo* yakni membawa wadah berisi makanan siap saji dengan menu tradisional khas yang kelezatannya memanjakan lidah—sebuah simbol terima kasih yang tulus atas ilmu yang kami salurkan.


*Harmoni Perjuangan: Catatan Kolektif Pengelola Sekolah*


Perjuangan maha berat namun indah ini kami lalui sebagai satu keluarga utuh di bawah kepemimpinan sosok ayah cerdas yang bijaksana, *Drs. Muhammad Yunus Daeng Masese* selaku Kepala Sekolah. Di bawah ketegasan dan kelembutan beliau, kami membagi peran demi menghidupkan lentera SDN 75 Pacubbe:


*Ibu Sutradara* (Istri Kepsek) satu-satunya guru wanita yang ditugasi Merawat tuna baru di Kelas 1


*Junaid* yang dipercayakan Membimbing dasar-dasar di Kelas 2


*Anwar AN* dengan penuh semangat Menuntun perkembangan di Kelas 3


*Suhardin* guru Mursyid penuh kesabaran Menempa pemahaman dan karakter di Kelas 4


*A. Rohim* dengan keahliannya Menguatkan fondasi berpikir di Kelas 5


*Dr. H. Halek* figur panutan Mengantarkan kelulusan di Kelas 6


*Isak Tangis Perpisahan dan Buah Manis yang Abadi*


Namun, setiap pertemuan yang indah pasti akan membahas titik jeda. Panggilan bakti sebagai seorang anak yang harus merawat orang tua (mertua) yang sering sakit-sakitan, serta kewajiban mendampingi istri tercinta (Rosmawati Dg.Jimo alm.) yang bertugas sebagai guru di Kabupaten Takalar, memaksa saya mengambil keputusan paling berat dalam hidup.

Hari perpisahan itu tiba. Hari di mana tanah Pacubbe basah, bukan oleh air hujan, melainkan oleh air mata. Langkah kaki saya dilepas dengan isak tangis yang menyayat hati dari anak-anak didik dan seluruh lapisan masyarakat. Mereka memeluk kami erat-erat, berat melepaskan sosok guru yang telah menyatu dengan urat nadi kampung mereka. Air mata saya pun tumpah, meninggalkan sebagian hati saya terkubur di bawah tiang bendera SDN 75 Pacubbe.


Kini, tujuh puluh tahun telah berlalu. Rasa haru itu kembali membuncah, namun kali ini menjelma menjadi rasa bangga yang luar biasa. Benih-benih yang kami tanam di tengah lumpur dan batasan tahun 1993 kini telah tumbuh menjadi pohon-pohon pelindung yang kokoh. 


Anak-anak kecil yang dulu jemarinya saya tuntun, kini telah menjelma menjadi manusia-manusia sukses. Sebut saja nama-nama seperti *Hikmah Fajar, Ernawati, Fitriani*, dan banyak lainnya; mereka kini telah kembali ke rahim sekolah tersebut, berdiri tegak sebagai guru-guru hebat di *SDN 75 Pacubbe*.


Kondisi sekolah saat ini sudah jauh lebih maju di segala bidang, bertransformasi menjadi institusi yang berlisensi, berkat bermunculannya para pemimpin baru hasil didikan rahim masa lalu.


Pengalaman berharga di SDN 75 Pacubbe adalah bukti autentik dari *Pedagogi Mata Hati*. Ia mengajarkan bahwa keterbatasan fisik tidak akan pernah bisa memenjarakan semangat pengabdian. Mencukupi masa lalu adalah anugerah yang menempa jiwa, dan keberhasilan anak didik adalah kenikmatan tertinggi yang akan tetap hidup, mengalirkan pahala tanpa putus hingga akhir hayat. Kesunyian Pacubbe tahun 1993, kini telah menjelma menjadi simfoni kejayaan yang abadi. #Deo