Syekh Abdul Ghani Al-Bimawi


???????????????????? ???????????????????? ????????????????????????????????????, ???????????????? ???????????????????????????????? ????????????????????, ???????????? ???????????????? ???????????????? ???????????????????? ???????????????? ???????????????? ????????????????–????????????????????


Syekh Abdul Ghani al-Bimawi merupakan salah satu ulama terbesar yang pernah lahir dari Pulau Sumbawa dan dikenal luas dalam sejarah jaringan ulama Nusantara di Tanah Suci Makkah. Nama beliau sangat dihormati di kalangan ulama Nusantara abad ke-18 hingga ke-19 karena kedalaman ilmunya, kedudukannya sebagai imam di Masjidil Haram, serta pengaruh intelektualnya terhadap banyak ulama besar Indonesia.


Beliau dikenal dengan nama lengkap Syekh Abdul Ghani bin Subuh bin Ismail bin Abdul Karim al-Bimawi al-Jawi. Dalam berbagai literatur Timur Tengah dan Nusantara, nama “al-Bimawi” menunjukkan asal usul beliau dari wilayah Bima-Dompu di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. 


Syekh Abdul Ghani diperkirakan lahir sekitar tahun 1780 M di wilayah Bima pada masa Kesultanan Bima masih memiliki hubungan erat dengan jaringan ulama Haramain. Sebagian sumber masyarakat Dompu juga menyebut keluarganya memiliki keterkaitan yang kuat dengan wilayah Dompu karena ayah beliau kemudian menetap dan berdakwah di wilayah tersebut. 


Ayah beliau, Syekh Subuh, dikenal sebagai ulama besar dan pernah menjadi imam serta mufti di lingkungan Kesultanan Bima. Dalam sejumlah catatan sejarah lokal, Syekh Subuh juga disebut pernah menjadi Imam Masjidil Haram dan dikenal sebagai penulis mushaf Al-Qur'an terkenal di Bima yang disebut “La Lino”. 


Lingkungan keluarga ulama tersebut membentuk perjalanan intelektual Syekh Abdul Ghani sejak usia muda. Beliau kemudian berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama dan belajar kepada banyak ulama besar dunia Islam pada zamannya. Di antara guru yang disebut dalam beberapa sumber adalah Sayyid Muhammad al-Marzuqi, Sayyid Ahmad al-Marzuqi, Muhammad Sa'id al-Qudsi, dan Utsman ad-Dimyathi. 


Di Tanah Haram, nama Syekh Abdul Ghani al-Bimawi berkembang menjadi salah satu ulama Jawi paling berpengaruh. Banyak peneliti sejarah Islam Nusantara menyebut beliau sebagai salah satu “Maha Guru Ulama Nusantara” di Makkah pada abad ke-19. Bahkan ceramah Prof. Azyumardi Azra memberikan beliau dalam jaringan ulama besar Nusantara di Haramain yang memiliki pengaruh luas terhadap perkembangan Islam di Asia Tenggara. 


Beliau dikenal aktif mengajar di Masjidil Haram dan menjadi rujukan para peminjam ilmu dari Nusantara. Sejumlah sumber menyebut dia pernah menjadi imam Masjidil Haram sekaligus periwayat hadis yang dihormati di kalangan ulama Hijaz. 


Pengaruh keilmuan Syekh Abdul Ghani sangat besar terhadap generasi ulama Nusantara berikutnya. Dalam tradisi pesantren lisan, beliau disebut sebagai salah satu guru yang dihormati oleh ulama-ulama besar seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Khalil Bangkalan, dan jaringan ulama Jawi lainnya di Makkah. 


Dalam masyarakat Bima dan Dompu, Syekh Abdul Ghani juga dikenal sebagai tokoh spiritual yang memiliki pengaruh sosial yang sangat besar. Keturunannya dikenal dengan sebutan “Ruma Sehe”, yakni keluarga ulama yang dihormati dan memiliki kedudukan tinggi dalam kehidupan masyarakat Bima-Dompu. 


Beliau menikah dengan perempuan asal Dompu dan memiliki keturunan yang kemudian melanjutkan dakwah Islam di wilayah Kesultanan Dompu. Salah satu putranya adalah Syekh Mansur atau dikenal dengan nama Sehe Jedo. Dari garis keturunan tersebut lahir sejumlah tokoh agama dan qadhi Kesultanan Dompu. 


Dalam sejumlah catatan sejarah lokal, Syekh Abdul Ghani juga pernah kembali ke Dompu dan terlibat dalam penguatan syariat Islam di lingkungan Kesultanan Dompu. Beliau termasuk ikut serta dalam pembinaan masyarakat dan pengembangan dakwah Islam di wilayah tersebut. 


Karisma beliau sangat kuat di tengah masyarakat Nusantara. Dalam berbagai kisah ulama pesantren, nama Syekh Abdul Ghani al-Bimawi disebut dengan penuh penghormatan sebagai simbol keilmuan, ketekunan beribadah, dan kedalaman spiritual ulama Nusantara di Haramain.


Syekh Abdul Ghani al-Bimawi wafat sekitar tahun 1853–1854 M dan dimakamkan di Ma'la, Makkah al-Mukarramah, kompleks pemakaman bersejarah yang juga menjadi tempat pemakamannya banyak ulama besar dunia Islam. 


Hingga kini, nama beliau tetap dikenang sebagai salah satu ulama terbesar asal Pulau Sumbawa yang berhasil mencapai kedudukan tinggi di pusat dunia Islam sekaligus menjadi bagian penting dari sejarah jaringan ulama Nusantara di Makkah.


???????????????????????? ????????????????????????????????


Syekh Abdul Ghani al-Bimawi dikenang sebagai:

ulama besar Nusantara di Haramain,

Imam Masjidil Haram,

guru para ulama Jawi di Makkah,

tokoh penyebaran Islam dari Bima–Dompu,

serta salah satu simbol kejayaan intelektual Islam Nusantara pada abad ke-19.


???????????????????????????? ????????????????????????????


Profil ini disusun berdasarkan penelusuran berbagai sumber sejarah Islam Nusantara, artikel akademik, dokumentasi sejarah Bima–Dompu, tulisan mengenai jaringan ulama Haramain, serta catatan publik tentang Syekh Abdul Ghani al-Bimawi.


Sebagian data biografis rinci, termasuk tanggal lahir pasti dan detail jabatan formal beliau di Masjidil Haram, masih memiliki perbedaan antar sumber sejarah sehingga penulisan dilakukan dengan mengutamakan informasi yang paling konsisten ditemukan dalam literatur dan dokumentasi publik yang tersedia. Profil ini masih dapat disempurnakan apabila kemudian hari ditemukan manuskrip, arsip resmi, atau kajian sejarah tambahan yang lebih lengkap.


#Komentar Dian Hikmah .

Apakah nama.beliau sambungannya al Bimawi.Al.Bagdadi?


Dalam beberapa sumber dan manuskrip memang disebutkan nama beliau sebagai Syekh Abdul Ghani al-Bimawi al-Jawi, dan ada pula yang menyebutkan tambahan al-Baghdadi. Penyebutan al-Baghdadi dikaitkan dengan garis keturunan beliau dari Syekh Abdul Karim yang berasal dari Bagdad dan kemudian menetap di Bima. Jadi, tambahan nama itu lebih merujuk pada asal usul leluhur beliau.