Kisah Pilu Imam Masjid K0rb4n P3n93r0y0k4n Yang Dijadikan Tersangka.



DI sebuah sudut Kota Palopo, suara azan seharusnya menjadi panggilan damai bagi umat. Namun siapa sangka, di balik lantunan azan dari Masjid As Salam, tersimpan kisah pilu seorang imam masjid yang kini menggemparkan hati masyarakat.


Namanya Ahmad, usia 62 tahun. Sehari-hari beliau dikenal sebagai imam masjid sederhana yang hidupnya diabdikan untuk rumah ibadah. Rambutnya mulai memutih, suaranya lembut saat memimpin shalat, dan kesehariannya tak jauh dari membersihkan masjid serta membimbing anak-anak mengaji.


Namun takdir pahit menghampirinya.


Peristiwa bermula ketika Ahmad menemukan sejumlah bocah kembali bermain-main di dalam masjid menjelang salat Asar. Mereka menggunakan mikrofon dan mengeraskan suara untuk bercanda, bahkan mengumandangkan azan secara main-main sebelum waktunya tiba.


Menurut keluarga, kejadian seperti itu bukan pertama kali terjadi. Anak-anak tersebut sudah berulang kali ditegur karena sering membuat gaduh hingga merusak fasilitas masjid.


Sebagai seorang imam yang merasa bertanggung jawab menjaga kesucian rumah ibadah, Ahmad pun menegur mereka. Dalam emosi saat dan niat mendidik, ia menjitak kepala beberapa anak agar jera dan tidak lagi bermain-main di masjid.


Namun teguran itu justru menjadi awal petaka. Anak-anak tersebut pulang dan mengadu kepada orang tuanya. Orang tuanya tidak terima, beberapa keluarga bocah mendatangi masjid dalam keadaan emosi. Situasi memanas hingga berakhir dugaan p3ng3r0y0k4n terhadap sang imam masjid.


Ahmad yang sudah lanjut usia tak mampu melawan. Tubuh sewa itu menjadi sasaran amukan. Wajahnya l3b4m, matanya m3mb3ngk4k, tubuhnya b4b4k b3lur hingga harus dibawa ke rumah sakit.


Warga sekitar yang melihat kondisi Ahmad mengaku prihatin. Banyak yang tidak menyangka seorang imam masjid yang selama ini dikenal tenang justru menjadi K0rb4n k3k3r4s4n.


Kasus ini sempat membuat publik bersimpati setelah dua p3l4ku p3ng3r0y0k4n lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka. Namun gelombang reaksi masyarakat semakin besar ketika Ahmad baru saja dijadikan tersangka atas dugaan p3ng4n14y44n anak, setelah adanya laporan balik dari salah satu orang tua bocah.


Foto sang imam dengan mata sebelah kanannya di perban viral di media sosial. Banyak masyarakat memahami rasa keadilan, terutama karena Ahmad sebelumnya merupakan k0rb4n p3ng3r0y0k4n yang mengalami luk4 cukup p4r4h.


Di mata sebagian warga kecil, peristiwa ini terasa menyesakkan. Seorang imam yang bermaksud menegur anak-anak agar menjaga adab di rumah ibadah, justru harus berhadapan dengan proses hukum dan mengenakan borgol layaknya p3nj4h4t berat.


Kasus ini kini menjadi perhatian luas. Ada yang menilai tindakan yang menjitak anak-anak tetap tidak dapat diterima, namun tidak sedikit pula yang menilai respons p3ng3r0y0k4n terhadap seorang lanjut usia dan imam masjid jauh lebih memprihatinkan.


Di tengah hiruk pikuk polemik hukum, satu pertanyaan terus bergema di benak masyarakat, di mana letak keadilan bagi rakyat kecil ketika seorang korban justru ikut menjadi tersangka?


Kini Ahmad hanya bisa menahan luka di tubuh dan batinnya. Di usia senjanya, lelaki yang terbiasa berdiri di depan saf memimpin doa itu, harus merasakan dinginnya borgol di tangan sendiri.


(***)