Hasanuddin & Arung Palakka Dua Putra Zaman, Dua Jalan Sejarah



Sejarah sering kali dijelaskan hitam dan putih.

Seolah satu pihak selalu benar, dan pihak lain selalu salah.


Padahal di tanah Sulawesi abad ke-17, kisah Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka jauh lebih rumit dari sekedar lawan dan kawan. 


Semuanya bermula dari gejolak besar antara Bone, Wajo, Soppeng, dan Gowa—tentang kekuasaan, syariat, harga diri, dan supremasi antar kerajaan. 

Di tengah pergolakan itu, Bone mengalami kekalahan pahit di Passémpe'.

Para bangsawan ditawan.Rakyat tercerai. Luka sejarah pun tercipta. 


Dari puing kekalahan itulah tumbuh seorang anak tawanan bernama La Tenri Tatta Daeng Serang, kelak dikenal sebagai Arung Palakka. Ia tumbuh di istana Gowa, hidup berdampingan dengan seorang pangeran muda yang cerdas dan berkuasa: I Mallombasi Daeng Mattawang, kelak bergelar Sultan Hasanuddin. 


Mereka belajar pada guru yang sama,diasuh oleh kecerdasan besar Karaeng Pattingalloang,

mempelajari ilmu perang, diplomasi, hingga kebesaran peradaban dunia. 


Mereka pernah bermain di halaman istana yang sama, melatih keberanian di tanah yang sama, bahkan komitmen dalam hubungan keluarga. Namun takdir sejarah memilih jalan yang berbeda.


Yang satu tumbuh membawa luka negerinya dan tekad memerdekakan Bone. 

Yang satu memikul kehormatan Gowa dan sumpah menjaga kejayaan Makassar. 


Keduanya bukan sekedar musuh. Mereka adalah dua putra terbaik zamannya, dibentuk oleh guru yang sama,

dibesarkan oleh peradaban yang sama, lalu dipertemukan sebagai lawan oleh kehendak sejarah. 


Terkadang sejarah memang kejam ia mempertemukan sahabat sebagai musuh,

bukan karena benci, tetapi karena masing-masing sedang menjaga harga diri negerinya. 


 Sebab dalam lembar sejarah yang agung, tak selalu ada pahlawan dan pengkhianat kadang yang ada hanyalah dua manusia besar yang sama-sama setia pada tanah kelahirannya.


(***)