Tragedi Pendaki 2 Bersaudara Hilang di Gunung Dempo
Hujan deras dan kabut tebal memanjat jalur pendakian Gunung Dempo ketika seorang ibu bernama Hasnah berjalan perlahan sambil membawa plakat peringatan untuk dua anaknya, Jumadi dan M. Fikri Sahdilah. Pendakian itu ia lakukan pada tanggal 15 Oktober 2020, tepat 1 tahun setelah kedua anaknya hilang di Gunung Dempo. Gunung itu bukan lagi sekadar tempat pendakian, melainkan lokasi yang menyimpan kenangan terakhir tentang anak-anak yang tak pernah berhenti ia rindukan.
Tragedi tersebut bermula saat Jumadi berusia 26 tahun dan Fikri berusia 19 tahun mendaki Gunung Dempo pada Oktober 2019 untuk merayakan ulang tahun Fikri. Setelah sempat memberi kabar bahwa mereka telah tiba di kawasan pendakian, komunikasi tiba-tiba terputus. Keluarga yang panik kemudian melapor ke Basarnas setelah berhari hari tidak mendapat kabar sedikit pun dari keduanya.
Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, Relawan, hingga Wanadri langsung melakukan pencarian besaran. Namun cuaca buruk, kabut pekat, dan medan curam di sekitar kawah membuat operasi berlangsung sangat sulit. Tim sempat menemukan sejumlah barang milik korban seperti pakaian, sandal, dan kalung milik Jumadi, tetapi keberadaan mereka tetap menjadi misteri selama beberapa hari hingga operasi resmi sempat dihentikan.
Pada tanggal 2 November 2019, relawan akhirnya menemukan dua jasad di daerah dekat kawah Gunung Dempo. Posisi korban berada di lokasi berbahaya sehingga proses evakuasi berlangsung dramatis selama berjam-jam melewati jalur licin dan paralel. Kasus ini juga sempat menjadi sorotan setelah keluarga mengungkap adanya dugaan kejanggalan sebelum keduanya hilang, meski hingga kini penyebab pasti kematian mereka tidak pernah dijelaskan secara resmi.
Setahun setelah tragedi itu, Hasnah memilih kembali mendaki gunung yang menyimpan luka terbesar dalam hidupnya. Di tengah hujan dan dinginnya pegunungan, ia memasang plakat peringatan sambil membawa doa dan kenangan yang tidak pernah hilang. Momen itu menyentuh banyak orang karena menampilkan satu hal yang sering kali tidak bisa dikalahkan oleh waktu, yaitu cinta seorang ibu kepada anaknya. (***)