Denpasar, 11 November 1995
Saya masih begitu muda saat itu. Usia saya baru memasuki kepala satu, usia yang begitu ranum, begitu belia. Kulit masih lembap alami, tubuh masih terisi energi dan kesegaran masa muda. Rambut panjang terurai apa adanya, tanpa sentuhan salon, tanpa perawatan modern yang hari ini begitu lumrah. Saya bahkan belum mengenal krim wajah, belum pernah mengukur alis, memotong rambut di salon, atau melakukan perawatan kecantikan apa pun. Semuanya masih sangat alami. Alis tebal itu murni memberikan lahir, dan senyum saya pun masih canggung, belum seluwes foto-foto selfie hari ini. Semuanya masih sederhana, polos, dan apa adanya.
Saya hanyalah seorang gadis kecil dari pelosok desa transmigrasi. Anak petani yang hidupnya akrab dengan lumpur sawah, terik matahari, aroma tanah basah, dan hamparan padi sejauh mata memandang. Masa kecil saya tidak berisi gemerlap kota atau kehidupan modern. Hari-hari saya hanya berkutat di antara sawah, kebun, dan kehidupan desa yang sunyi. Bahkan kota Palu, ibu kota provinsi tempat saya tinggal kala itu, terasa begitu jauh dan asing. Saya benar-benar tumbuh sebagai gadis desa yang sederhana, dekil, kumal, dan nyaris tak terlihat oleh dunia.
Desa kecil itu bernama Desa Balinggi, sebuah wilayah transmigrasi di pelosok Sulawesi Tengah yang pada masa itu hampir tidak pernah terdengar namanya. Bahkan keluarga besar kami di Bali sering menganggap tempat itu seperti berada di ujung dunia,?jauh, terpencil, dan tak menyentuh hiruk-pikuk kehidupan luar.
Saya saja menamatkan SMA pada Juli 1995 di Sulteng, kemudian langsung menuju tanah leluhur, Bali, empat bulan baru kemudian, tepat pada 6 November 1995, om, tante, kakek, dan nenek membawa saya membuat SIM pertama dalam hidup saya di Kota Denpasar. Sebuah langkah kecil yang ternyata menjadi awal perjalanan panjang kehidupan saya.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Bali, saya tinggal di Sibang di rumah kakek, nenek, dan keluarga besar ayah saya di Sibang Gede, Banjar Bantas Klod, Badung, Bali. Semua saudara ayah masih lengkap kala itu. Kehangatan keluarga begitu terasa, meski di dalam hati saya tersimpan kegugupan menghadapi dunia yang sama sekali baru.
Saya datang membawa mimpi besar: menjadi seorang polisi wanita. Pembuatan SIM itu bukan sekedar formalitas, melainkan bagian dari persiapan menyambut cita-cita. Saya sedang mempersiapkan diri untuk mendaftar di Polda Bali, dengan hati penuh harapan dan keberanian yang masih bercampur ketakutan.
Denpasar saat itu terasa seperti kota dalam mimpi. Kota yang selama ini hanya saya dengar dari cerita ayah dan ibu. Walaupun saya lahir di Bali, hampir seluruh masa kecil saya tumbuh di Sulawesi, sehingga Bali terasa begitu asing. Saya hanya sempat mengenal pulau ini pada usia satu atau dua tahun, usia yang bahkan nyaris tidak mengingat ingatan apa pun.
Hari ini, ketika kembali melihat SIM pertama bertanggal 6 November 1995 itu, hati saya dipenuhi rasa yang sulit dijelaskan. Ada haru, ada rindu, ada syukur, dan ada perjalanan panjang yang seketika berputar kembali di pelupuk mata. Gadis kecil dari desa terpencil itu kini telah menjalani kehidupan setengah abad.
Dan bapak Kapolres yang menandatangani SIM pertama saya kala itu, pada tahun 1995, tentu masih seorang pria muda yang gagah, segar, dan penuh wibawa. Waktu itu mungkin dia berada pada masa terbaik dalam hidupnya. Namun hari ini, bila dihitung usia beliau tentu sudah mendekati 80 tahun, Begitulah hidup. Semua perlahan berubah, menua, dan berjalan mengikuti waktunya masing-masing masin
Waktu benar-benar berjalan begitu cepat. Perlahan, tanpa terasa, kita berubah. Dari seorang gadis desa yang subur dan tak dikenal siapa-siapa, menjadi perempuan yang telah melewati begitu banyak musim kehidupan.
Kini, di usia menjelang 50 tahun saya memahami bahwa hidup bukan lagi tentang berlari mengejar dunia, melainkan tentang menjaga diri agar tetap mampu menikmati sisa perjalanan dengan sehat dan penuh rasa syukur. Usia ini mulai akrab dengan nyeri sendi, pegal, encok, dan tanda-tanda tubuh yang tak lagi paham dulu. Namun satu hal yang saya pahami, kesehatan adalah investasi paling berharga yang harus dijaga sejak hari kemarin.
Dan di antara semua perubahan itu, saya tetap bersyukur. Bersyukur pernah menjadi gadis sederhana dari Desa Balinggi, anak petani dari pelosok transmigrasi yang dahulunya nyaris tak terlihat oleh dunia mnamun tetap berani membawa mimpi besar di dalam dadanya, lalu melangkah perlahan hingga sampai sejauh ini.