HARGA DIRI LAKI-LAKI ITU BEKERJA KERAS
Mungkin sering kita melihat Bapak ini di jalanan Kota Aceh. Punggungnya yang sedikit menopang menopang sebuah gerobak biru langit. Gerobak itu sederhana, mungkin hanya memuatnya. Namun, gerobak itulah simbol perjuangan, simbol harapan bagi keluarga, dan simbol “Cahaya” di tengah kegelapan total.
Temui Bapak Irwandi. Umurnya 49 tahun. Selama 24 tahun - hampir setengah abad lamanya - gerobak ini menjadi Saksi bisu setiap langkah kakinya. Di dalam gerobak biru ini, Pak Irwandi tidak hanya membawa alat-alat pijat, tapi juga sejuta mimpi.
Namun, di balik semangat baja Pak Irwandi, tersimpan sebuah kisah pilu yang tak akan pernah terlupakan. Saat usianya masih sangat muda, 20 tahun, Pak Irwandi harus menerima kenyataan pahit: ia divonis mengalami kebutaan total. Dunia disekitarnya seketika runtuh. Kegelapan merenggut setiap impian masa mudanya.
Waktu itu dunia terasa gelap total,” Pak Irwandi bercerita dengan suara yang sedikit bergetar, “Saya tidak bisa melihat apa-apa lagi. Saya takut, bingung, dan sempat putus asa.”
Tetapi, keputusasaan tidak pernah menjadi teman hidup Pak Irwandi. Meskipun matanya tidak lagi bisa melihat cahaya matahari, ketakutan menolak untuk menyerah pada kegelapan. Dia tak mau jadi beban bagi siapa pun. Semangat mencari nafkah tak pernah padam di dada.
Maka dimulailah perjalanannya. Dengan hanya bermodalkan rasa, sentuhan, dan intuisi, Pak Irwandi menekuni profesi sebagai tukang pijat keliling. Pagi, siang, bahkan hingga malam, ia berjalan, mendorong gerobak birunya di tengah keramaian kota, mencari pelanggan yang mau memakai jasanya. Ia harus mengandalkan pendengaran dan perabaan untuk menavigasi yang kini penuh kegelapan.
Pernah Pak Irwandi bertanya, apa yang membuatnya terus bertahan selama 24 tahun dalam kegelapan ini?
la tersenyum, senyum yang begitu tulus, lalu menjawab, "Mata saya boleh gelap, tapi jiwa saya tetap harus melihat cahaya harapan. Keluarga saya adalah cahaya itu. Dan saya tak akan pernah membiarkan cahaya itu padam selama masih ada napas di tubuh ini."
Kisah Bapak Irwandi adalah pengingat bagi kita semua. Bahwa di balik keterbatasan fisik, ada kekuatan jiwa yang luar biasa. Meskipun hidup tidak adil dan seringkali memberikan ujian yang berat, kita tidak boleh menyerah. Bahwa di setiap kegelapan, pasti ada titik cahaya yang bisa kita temukan, selama kita punya keberanian untuk terus mencari.
“Pekerjaan saya mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang, tapi bagi saya, ini adalah segalanya,” kata Pak Irwandi. Mari kita sejenak memberikan penghormatan kepada Bapak Irwandi. Mari kita belajar dari semangatnya, dari kegigihannya, dari keikhlasannya dalam menjalani hidup. Dan mari kita doakan agar Pak Irwandi selalu diberikan kesehatan, kelancaran rezeki,
kesehatan, kelancaran rezeki, dan selalu dilindungi oleh-Nya.
(***)