Kisah Dibalik Novel Layar Terkembang
Kisah STA, Anak Guru yang Menjadi Tokoh Intelektual Kelas Dunia
Setiap kali kita berbicara dalam Bahasa Indonesia yang tertata, ada jejak pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA) di sana. Lahir pada tahun 1908, pria yang memiliki darah Minangkabau dari ibunya—seorang keturunan raja dari Kesultanan Indrapura—ini tumbuh menjadi sosok yang tidak pernah puas dengan kemapuan berpikir. Ayahnya adalah seorang guru, namun STA kecil justru lebih dikenal sebagai anak yang senang bermain di luar daripada sekadar berdiam diri dengan buku-buku.
Perjalanan kariernya dimulai dari langkah yang cukup sederhana. Setelah lulus sekolah guru, ia melihat iklan lowongan di Balai Pustaka dan memutuskan untuk melamar. Keputusan kecil ini menjadi titik balik besar; di sanalah ia bertemu dengan para pemikir hebat lainnya dan mulai merumuskan ide-ide besar tentang modernisasi Indonesia. Ia percaya bahwa untuk maju, bangsa ini harus berani menatap masa depan dan belajar dari kemajuan dunia Barat, sebuah pemikiran yang sempat memicu perdebatan hangat di kalangan intelektual masanya.
Namun, jalan hidupnya tidak selalu penuh kemudahan. Ia pernah merasakan duka mendalam saat kehilangan istri pertamanya, Raden Ajeng Rohani Daha, baru dalam beberapa tahun pernikahan. Di tengah badai pribadi dan situasi negara yang bergejolak, ia tetap produktif. Ia menulis novel legendaris seperti Layar Terkembang dan menyusun Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia pada tahun 1936—sebuah karya yang menjadi fondasi bagaimana kita berbahasa hingga hari ini.
Hingga akhir hayatnya pada tahun 1994, STA tetaplah seorang pejuang mimpi. Meski sempat merasa kecewa karena cita-citanya menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama di Asia Tenggara belum sepenuhnya terwujud, warisannya tak terbantahkan. Dari lahirnya Universitas Nasional di Jakarta, dan lewat pemikirannya, ia telah mengajarkan kita bahwa identitas bangsa bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang seberapa berani kita membentuk masa depan.
(***)