MABAK DIKEPUNG BRIMOB
Gonjang Gonjing politik setelah Bung Karno turun, bagi satuan Brimob Pelopor terkena juga dampaknya.
Tahun 1968, Mabak (sekarang Mabes) Polri mengeluarkan Surat Keputusan penempatan Komandan Resimen Pelopor. Berdasarkan SK tersebut Kombes Pol. Anton Soedjarwo yang saat itu menjabat sebaga memerintahkan Resimen Pelopor resmi diganti.
Pergantian jabatan yang terjadi di tengah konflik yang merebak di Mabak Polri tak pelak menimbulkan bahaya. Berbagai pihak mengungkapkan adanya maksud-maksud tertentu yang melatari penempatan tersebut.
Kecurigaan ini juga merebak di antara para anggota Pelopor. Entah karena terpengaruh oleh suasana yang memanas dan konflik yang terjadi dalam tubuh Polri atau hal-hal lain, reaksi yang ditunjukkan para anggota Pelopor dalam menanggapi penyelesaian tersebut sungguh di luar dugaan.
Siang itu dengan menggunakan truk pengangkut pasukan, hampir seluruh anggota Pelopor berangkat dari markas mereka di Kelapa Dua Cimanggis ke Mabak POLRI di Kebayoran dengan senjata lengkap dan pakaian tempur Loreng khas Pasukan Pelopor Brimob.
Dipimpin langsung oleh Wakil Komandan Resimen Pelopor AKBP Soetrisno Ilham. Tuntutan mereka hanya satu....SK penempatan Komandan Resimen Pelopor dicabut atau mereka akan terus mengepung Mabak Polri hingga waktu yang tidak ditentukan.
Tiba di Mabak Polri, AKBP Soetrisno liham langsung memerintahkan pasukannya menutup seluruh akses menuju Mabak. Selain itu, ia juga menempatkan para penembak jitu di beberapa titik strategi dan memerintahkan mereka untuk melepaskan tembakan peringatan kepada siapa pun yang keluar dari Mabak termasuk Kapolri sendiri Jendral Soetjipto Joedodihardjo,
Suasana di sekitar Mabak Polri menjadi sangat tegang, Beberapa kali pasukan Pelopor melepaskan tembakan peringatan ketika ada petugas Polri yang nekat keluar dari komplek Mabak.
Untuk mencegah peristiwa ini menjadi konflik yang lebih besar, Djawatan Kepolisian Negara pun memenuhi tuntutan tersebut. Terlebih lagi, dalam situasi politik yang tidak disebutkan, konflik antar anggota Polri akan berakibat sangat tidak menguntungkan bagi institusi Polri.
Setelah saya mendengar bahwa Kapolri mengabulkan tuntutan para anggota Brimob Pelopor itu baru kemudian anggota Brimob Pelopor kembali ke Kelapa Dua Cimanggis.
Buntut dari peristiwa pengepungan ini adalah mundurnya Kapoiri Jenderal Polisi Soetjipto Joedodihardjo, sementara bagi para personil Resim Pelopor, peristiwa pengepungan itu membawa efek yang tidak menguntungkan, terutama jika ditimbang secara politis.
Namun dari peristiwa itu dapat dipetik pelajaran bahwa Kepolisian adalah satu tubuh dan jika mereka tidak suka campur tangan dalam urusan politik.
Sumber buku Resimen Pelopor Pasukan Elit yang Terlupakan
Beny Rusmawan.
(***)