Pesona Kani Bunti, Busana Pakaian Adat Pengantin Bima
Penduduk Bima merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis, dan budaya yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air. Pembentukan masyarakatnya lebih dominan berasal dari imigrasi para pendatang dari daerah sekitar, seperti Makassar dan Bugis, yang umumnya mendiami wilayah pesisir Bima. Mereka berbaur dengan penduduk asli, salah satunya melalui perkawinan dengan gadis-gadis asli Bima. Mata pencaharian penduduknya cukup bervariasi, seperti petani, pedagang, nelayan, atau pegawai pemerintahan.
Para pendatang ini datang sekitar abad ke-14, baik untuk berdagang maupun menyebarkan agama. Dengan beragamnya etnis dan budaya yang masuk ke Bima, tak heran jika perkembangan agama di daerah ini cukup beragam, meski 90 persen masyarakatnya menganut agama Islam. Masyarakat Bima juga dikenal tetap memegang teguh nilai-nilai kearifan yang sudah tertanam sejak nenek moyang mereka.
Karena mayoritas penduduknya beragama Islam, pola hidup keseharian masyarakat berpedoman pada aturan dan syariat Islam, termasuk dalam penyelenggaraan upacara perkawinan. Pakaian pengantin adat Suku Mbojo Bima memiliki kemiripan dengan pakaian pengantin Bugis. Hal ini menjadi salah satu bukti adanya akulturasi budaya Bugis ke dalam budaya Bima. Dalam sejarah Bima disebutkan bahwa penyebaran Islam di Bima dilakukan oleh para ulama dari Gowa.