Pasukan Gurkha Hancur Letkol S Soediarto Tolak Mundur Meski Terluka!!
Semarang, 15 Desember 1945
Dalam aksi heroik yang terjadi di kawasan sumber air Moedal, Gunungpati, pasukan khusus bawah komando Letkol S Soediarto berhasil menggempur dan menghancurkan unit tentara Sekutu dari korps pasukan Gurkha. Aksi ini terjadi seusai Sekutu memeriksa aliran air bersih ke kota yang telah diblokir sebelumnya oleh pejuang Indonesia.
Dengan kekuatan hanya sekitar 50 prajurit, pasukan S Soediarto secara cerdik memanfaatkan jebakan: dengan menyebarkan orang-orangan sawah sebagai umpan agar musuh saling menembak antarpribadi. Taktik taktis ini mengejutkan pasukan Gurkha, dan dalam bentrokan itu, meski dengan jumlah mereka yang relatif kecil, pasukan Indonesia mampu mendesak dan menghancurkan musuh.
Kondisinya menjadi semakin menegangkan ketika S Soediarto, terkena peluru di dada dan paha, sempat ditawari dievakuasi. Namun ia justru menolak dengan tegas. Dalam kata-katanya yang dikutip dari buku Semarang (1956) "Teruskanlah pertempuran ini. Jangan mundur sebelum musuh hancur. Janganlah aku diangkat ke belakang selama aku masih bisa memberi komando, biarkanlah aku di sini."
Demi semangat juang dan komando, S Soediarto memilih bertahan di garis depan. Berkat keberanian dan kecerdasannya, pasukan itu berhasil meraih banyak senjata rampasan berupa 2 Bren, 3 Owen, 6 Stengun, 57 senapan karabin, granat, serta bahan perbekalan yang kemudian menjadi senjata tambahan bagi prajurit lain yang belum bersenjata.
Setelah pertempuran, atas keberhasilannya, komandan sektor memberi 40 potong sarung kepada seluruh anggota pasukan S Soediarto sebagai simbol penghormatan.
Aksi di Sumur Jurang menampilkan bagaimana kekuatan lokal dengan persiapan sederhana bisa menumbangkan pasukan elit Sekutu seperti Gurkha sebuah simbol keberanian dan kecerdikan dalam perjuangan merebut kemerdekaan.
Kepemimpinan muda S.Soediarto menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan Indonesia diisi oleh generasi muda yang penuh idealisme meski di usia yang sangat muda.
Keberhasilan ini bukan hanya militer semata, namun juga berkontribusi menjaga akses udara bagi warga Semarang, sehingga pertempuran itu menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kehidupan sipil di tengah masa kacau setelah kemerdekaan.
Pertempuran di Sumur Jurang dan keberanian Letkol S Soediarto tetap dikenang sebagai bagian penting dari perjuangan kemerdekaan, terutama di wilayah Semarang dan sekitarnya. Meski banyak cerita pahlawan terlupakan, nama S Soediarto abadi di jalan-jalan dan monumen sebagai penghormatan atas jasa dan pengorbanannya.
(***)