"Kok, sekolah di negeri? Nggak sayang?"



Kurang lebih begitulah pertanyaan dari banyak orang yang bertanya Blissy lanjut ke SMP mana. 

Beberapa bulan sebelumnya pertanyaannya sedikit berbeda. 


"Udah daftar ke SMP mana?"


Seakan yakin sekali bahwa kami akan lebih lanjut menyekolahkan Blissy di SMP Islam swasta. 


Kalau mau jujur, memang ada keinginan seperti itu.

Ingin melanjutkan pendidikan di sekolah Islam. 

Anaknya sendiri apalagi, di dunianya yang homogen, hampir semua melanjutkan ke beberapa SMPIT di Bandung Timur sini, atau justru mondok. 


Tapi yaaa.... 

Belakangan, kebanyakan keinginan tidak selaras dengan kemampuan. Lalu ya... Sudah. 


Dalam perekonomian ini, mereka yang punya kerjaan tetap saja berasa gonjang-ganjing, apalagi kami yang embuh bagaimana tapi Alhamdulillah masih hidup dengan cukup baik sampai hari ini. 


Hanya saja, biaya sekolah SMP Islam swasta, tau sendirilah. Apalagi di daerah sini. 

Mau Dibilang kemahalan, tapi orang lain mampu haha. Kemahalan, buat kami. 


Awalnya sempat terpikir, apa cari pinjaman dulu buat biaya masuknya?

Masalah bulanan, toh, selama ini juga bisa terbayar? 

Lupa diri, terbayar pun dengan berdarah-darah dan dibantu banyak orang baik. 

Masa mau mengandalkan begitu? 


Ada yang bilang, harusnya yakin dengan rejeki anak apalagi yang berhubungan dengan pendidikan. 

Ya, siapa juga yang tidak yakin? 

Yakin. Tapi bukan harus di sekolah yang buat bayarnya masih ngawang² kan? 


Dan tidak. Kami tidak percaya diri buat berhutang. 

Saya ingat jaman mau mondok dulu Papa menegaskan diri berhutang pada satu Pakde yang selalu menceritakannya dengan nada pahit. 

Saya berterima kasih sekali atas pengorbanan orang tua saya dulu. 


Tapi saya tidak mengambil jalan yang sama, bukan karena tidak cukup sayang sama anak. Tapi karena sayang sekali. Supaya dia tidak perlu berhadapan dengan orang tua yang stres karena dikejar-kejar hutang dan tidak cukup pandai mengelola stres. 

Kalau orang lain bisa, ya bagus untuk mereka. 


Lalu pun, bisa mudah masuk ke SMP Negeri juga kami lihat sebagai satu bentuk rejeki yang mungkin juga memang mengalir harus begitu. 

Bukan sekolah favorit, tapi dekat rumah, meski masuknya dari jalur prestasi bukan domisili. 

Mudah sekali menyiarkan, bebas dari stres seperti yang banyak diceritakan di medsos. 

Mari kita menerima hak pendidikan gratis itu! 


Btw, sekolah negeri di Bandung memang banyak yang bagus dan favorit. Tapi anak kami yang tidak cukup berprestasi dan cenderung cenderung biasa saja untuk bisa masuk yang favorit itu.


Tentu saja saya juga tidak akan mengatakan kalau semua sekolah sama saja, dan jujur ??saja saya pun punya kekhawatiran sendiri. Tapi berusaha meyakini kalau ini jalan-Nya, maka Allah juga akan memudahkannya nanti. 


Saya benar² cuma berharap dan mengulangi² doa semoga Blissy dipertemukan dengan orang-orang--teman² dan guru²--yang baik dan membuatnya nyaman. 

Semoga dia bisa beradaptasi dengan baik di dunia yang berbeda dari sebelumnya. 


Hal² yang bahkan dia bilang merenung guru SDnya kalau masuk negeri bagaimana, seputar pergaulan yang akan bercampur dan menjaga ibadah juga kebiasaan baik, kita berusaha buat tetap dalam koridornya sambil terus doa, doa, dan doa mohon penjagaan dan rahmat Allah. 


Saya tidak mau menyebutkan perbandingan apa pun seperti kalau di sana juga gini, di sana mah gitu... Buat apa? 


Jalani saja ya, Nak. Bismillah. 

Bunda lanjut berusaha menabung untuk mengalihkan dana untuk ikut program² liburan lainnya. 

Supaya makin luas sudut pandangmu kelak. 


Selamat menantikan MBG pertamamu! ????