Cerita: RIMPU INA Pagi di Bima.
Ina berdiri di depan pagar Convention Hall. Hari itu bukan hari biasa. Hari itu Festival Rimpu Mantika, festival seribu perempuan Bima memakai Rimpu.
Tembe yang ia pakai di kepalanya itu bukan beli kemarin. Itu Tembe Nggoli warisan dari mamanya.
“Ingat, Ina,” kata mamanya dulu sambil bertanya, “Rimpu ini bukan untuk menutupi cantikmu. Rimpu ini untuk menjaga cantikmu.”
Rimpu hitam dengan garis merah dan emas di kepalanya bernama Rimpu Mpida. Hitam artinya ia sudah menjadi seorang Ibu, sudah tahu pahit manisnya hidup. Merah artinya keberanian menjaga keluarga. Emas artinya kemuliaan.
Dulu waktu Ina masih gadis, ia memakai Rimpu Colo - rimpu yang masih menampilkan sedikit wajah, malu-malu. Sekarang setelah menikah dan punya anak, ia memakai Rimpu Mpida yang lebih tertutup, lebih anggun.
Banyak turis yang memotretnya hari itu. Mereka bertanya, “Ibu tidak panas pakai begitu?”
Ina hanya tersenyum cantik.
"Panas matahari akan hilang nanti. Tapi kalau kita hilang adat, hilang selamanya."
Ia lalu merapikan Rimpunya, mengencangkan lilitan di dahi, dan berjalan masuk ke dalam festival. Langkahnya pelan, tapi pasti. Seperti benang tenun yang ditarik satu-satu, sabar, sampai menjadi kain yang indah.
Dan disitulah cantiknya perempuan Bima yang sebenarnya. Bukan di wajahnya saja, tapi di Rimpunya yang ia jaga seumur hidup.
(***)