Cerita Inspirasi : Anak Tukang Bajaj, Lolos Masuk Institut Teknologi Bandung.

Bajaj berwarna kuning itu biasanya hanya berkeliling di jalanan Yogyakarta untuk mengantar penumpang. Kendaraan ketiga tersebut menjadi alat kerja Basuni Yusuf, seorang sopir bajaj asal Tegalrejo yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari perjalanan jarak dekat di dalam kota. Namun pada pertengahan Juli 2026, bajaj itu menjalani tugas yang jauh berbeda. Kendaraan sederhana tersebut dibawa perjalanan ratusan kilometer Bandung demi mengantarkan anak sulung menuju Basuni memulai pendidikan di Institut Teknologi Bandung.


Di dalam bajaj itu ikut sang istri, seorang anak yang masih kecil, dan Andromeda Sufi Anggoro, anak pertama dari tujuh bersaudara. Tujuan mereka adalah Kampus ITB yang selama ini menjadi impian Andromeda. Setelah dinyatakan lolos seleksi, keluarga tersebut harus mempertimbangkan cara menuju Bandung dengan biaya yang masih bisa dijangkau. Membeli tiket kereta untuk beberapa orang dianggap cukup memberatkan, sedangkan Basuni ingin mengantarkan anaknya secara langsung dan melihat lingkungan tempatnya akan tinggal.


Setelah mempertimbangkan pilihan yang tersedia, bajaj yang biasa digunakan untuk mencari nafkah akhirnya terpilih sebagai kendaraan menuju Bandung. Kendaraan itu sebenarnya bukan milik pribadi, sehingga Basuni harus meminta izin kepada pemiliknya sebelum berangkat. Kondisinya juga dipersiapkan dengan mengganti oli, memeriksa tali kopling, dan membawa sejumlah suku cadang kecil seperti kabel gas. Perjalanan panjang dengan kendaraan roda tiga tentu memiliki risiko, sehingga persiapan sederhana tersebut tidak boleh diabaikan.


Perjalanan dimulai dari Yogyakarta pada hari Jumat sore sekitar pukul lima dengan mengambil jalur selatan. Kemacetan sempat menghadang di wilayah Gamping, Sleman, sementara kecepatan bajaj yang terbatas membuat jarak terasa semakin panjang. Menjelang tengah malam, keluarga baru tersebut tiba di Gombong dan menginap di sebuah pondok pesantren milik kenalannya. Pada pagi harinya, perjalanan kembali dilanjutkan dengan beberapa kali berhenti untuk beristirahat dan beribadah hingga akhirnya mereka tiba di Bandung pada Sabtu malam.


Secara keseluruhan, perjalanan itu memakan waktu sekitar 24 jam. Waktu yang panjang tersebut dijalani di dalam kendaraan dengan ruang terbatas, suara mesin yang terus terdengar, serta perlindungan yang tentu saja tidak senyaman mobil keluarga. Mereka harus melewati jalan antarkota, udara malam, kemacetan, dan kemungkinan kendaraan bermasalah di tengah perjalanan. Biaya bensin pulang-pergi diperkirakan sekitar Rp 300.000 hingga Rp 400.000, lebih memungkinkan dibandingkan membeli beberapa tiket kereta sekaligus.


Meski perjalanan dengan bajaj menjadi bagian yang paling menarik perhatian, kisah ini sebenarnya dimulai jauh sebelum kendaraan itu meninggalkan Yogyakarta. Setelah lulus dari SMA Negeri 4 Yogyakarta, Andromeda sempat mengikuti keinginan orang tuanya untuk berkuliah di kota asal. Ia kemudian menjalani pendidikan di bidang teknik informatika di UPN Veteran Yogyakarta karena pilihan tersebut dianggap lebih aman secara biaya dan membuatnya tetap dekat dengan keluarga.


Keputusan itu tidak membuat keinginan masuk ITB benar-benar hilang. Mimpi tersebut hanya disimpan sementara karena keluarganya harus memikirkan kebutuhan yang jauh lebih luas. Kuliah di luar kota bukan hanya soal membayar uang semester, tetapi juga tempat tinggal, makan, transportasi, perangkat belajar, dan kebutuhan sehari-hari. Apalagi Andromeda merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara, sehingga setiap keputusan harus mempertimbangkan kebutuhan enam adiknya.


Memasuki semester kedua, keinginan masuk ITB kembali muncul. Andromeda kemudian mempersiapkan diri mengikuti UTBK mandiri tanpa mengikuti bimbingan belajar berbayar. Ia mengandalkan video pembelajaran di YouTube, latihan soal, serta berbagai tryout dare untuk mengukur kemampuannya. Semua dilakukan di sela-sela perkuliahan yang sudah terlebih dahulu dijalaninya di Yogyakarta.


Belajar melalui internet memang membuat materi lebih mudah ditemukan, namun belajar mandiri tetap membutuhkan disiplin yang besar. Tidak ada pengajar yang terus mengingatkan, tidak ada jadwal kelas yang memaksa, dan tidak ada teman bimbel yang menemani ketika soal terasa sulit. Materi harus dipilih sendiri, waktu belajar harus diatur sendiri, dan setiap kesalahan harus diperiksa tanpa banyak bantuan. YouTube dan tryout online hanya menjadi alat, sedangkan hasil tetap ditentukan oleh keinginan untuk belajar, mengulang, dan terus mencoba.


Usaha tersebut akhirnya membawa Andromeda lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes dan diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB. Di kampus tersebut, ia akan terlebih dahulu melalui Tahap Persiapan Bersama sebelum menentukan program studi. Bidang yang menjadi tujuannya adalah Astronomi karena sejak lama ia tertarik pada matematika, fisika, bintang, planet, galaksi, dan luasnya alam semesta.


Pilihan tersebut cukup istimewa karena Astronomi ITB merupakan satu-satunya program pendidikan tinggi astronomi sejenis di Indonesia. Bagi seseorang yang ingin mendalami astronomi di dalam negeri, ITB menjadi tujuan yang paling jelas. Oleh karena itu, keberhasilannya masuk FMIPA ITB bukan sekadar perpindahan gunung. Kesempatan tersebut membawa semakin dekat pada bidang yang benar-benar ingin dipelajari.


Nama Andromeda sendiri telah diberikan sejak ia lahir dan terinspirasi dari Galaksi Andromeda. Di balik nama itu tersimpan harapan agar sang anak memiliki cara berpikir luas dan tidak mudah dibatasi oleh keadaan. Bertahun-tahun kemudian, anak yang diberi nama dari sebuah galaksi justru tumbuh dengan minat mempelajari alam semesta. Kesamaan antara nama dan cita-cita tersebut terasa seperti doa yang perlahan menemukan jalannya.


Namun doa itu tentu tidak berjalan sendirian. Ada proses belajar yang dijalani tanpa fasilitas berlebihan, keberanian untuk mencoba kembali setelah sempat berkuliah di tempat lain, serta dukungan keluarga yang terus mencari jalan meskipun kondisi ekonomi terbatas. Keberhasilannya tidak muncul dalam satu malam. Semua terbentuk dari keputusan kecil yang terus dijalankan secara konsisten.


Setelah Andromeda dinyatakan lolos, kegembiraan keluarga langsung bertemu dengan persoalan baru. Diterima di kampus besar belum tentu membuat seseorang dapat langsung menjalani pendidikan dengan tenang. Masih ada biaya keberangkatan, tempat tinggal, makan, transportasi, perangkat belajar, dan kebutuhan harian yang harus dipenuhi. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, kabar kelulusan sering kali datang bersama hitung-hitungan yang tidak kalah menegangkan.


Basuni kemudian meminta memastikan adanya bantuan pendidikan sebelum benar-benar memulai kehidupan di Bandung. Sikap itu bukan karena ia meragukan kemampuan Andromeda, melainkan bentuk kehati-hatian seorang kepala keluarga yang harus membagi penghasilan untuk banyak kebutuhan. Satu anak memang mendapat kesempatan kuliah di ITB, tapi enam anak lain di rumah tetap memerlukan biaya. Kebahagiaan atas kelulusan harus tetap berjalan bersama kenyataan ekonomi keluarga.


Rencana perjalanan menggunakan bajaj kemudian diumumkan melalui kelompok orang tua mahasiswa ITB hingga akhirnya diketahui pihak kampus. Pada Senin, 20 Juli 2026, Andromeda bersama keluarganya disambut di Kampus Ganesha oleh jajaran ITB, termasuk dekan dan Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara. Dalam kesempatan tersebut, Basuni memperoleh bantuan uang perjalanan sebesar Rp 5 juta setelah menempuh perjalanan jauh dari Yogyakarta menuju Bandung.


Andromeda juga mendapatkan laptop untuk menunjang kegiatan kuliah serta bantuan biaya hidup sebesar Rp 6 juta per semester. Sementara itu, UKT yang harus membayarnya ditetapkan sebesar Rp 1 juta. Untuk menekan biaya tempat tinggal, ia direncanakan tinggal di pondok pesantren pelajar yang biayanya lebih terjangkau dibandingkan indekos biasa. Bantuan tersebut membuat keluarga tidak harus menanggung seluruh kebutuhan perkuliahan sendirian.


Bantuan itu sangat berarti karena keberhasilan masuk kampus baru merupakan langkah awal. Laptop dibutuhkan untuk mengerjakan tugas, mencari bahan belajar, membuat laporan, dan mengikuti berbagai kegiatan akademik. Bantuan biaya hidup juga dapat digunakan untuk makan, transportasi, buku, kuota internet, dan kebutuhan harian. Semua itu menentukan apakah seorang siswa hanya berhasil diterima atau benar-benar mampu bertahan sampai menyelesaikan kuliahnya.


Kisah ini tentu pantas membuat banyak orang terharu. Seorang anak sopir bajaj berhasil masuk kampus besar setelah belajar tanpa bimbingan belajar, sementara dia menempuh perjalanan panjang menggunakan kendaraan roda tiga untuk mengantarnya. Pihak kampus kemudian menyambut keluarga tersebut dan memberikan bantuan yang benar-benar dibutuhkan. Semua bagian itu menunjukkan bagaimana usaha, dukungan keluarga, dan kepedulian dapat bertemu pada waktu yang tepat.


Namun cerita ini sebaiknya tidak hanya berhenti sebagai kisah haru yang dibaca, dipublikasikan, lalu perlahan dilupakan. Di luar sana masih banyak anak berprestasi yang berhasil lolos perguruan tinggi, tetapi kesulitan membayar tempat tinggal dan biaya hidup. Ada yang pada akhirnya menunda diri, menunda kuliah, atau memilih kuliah lebih dekat bukan karena tidak mampu bersaing, melainkan karena keluarganya tidak sanggup menanggung kebutuhan di kota lain.


Tidak semua perjuangan memiliki bentuk yang menarik perhatian seperti perjalanan Yogyakarta–Bandung menggunakan bajaj. Ada orang tua yang diam-diam menjual sepeda motor untuk membayar daftar ulang, meminjam uang untuk membeli laptop, atau mengurangi kebutuhan rumah tangga agar anaknya tetap bisa kuliah. Ada pula siswa yang harus bekerja setelah kelas demi membayar makan dan tempat tinggal. Kisah mereka mungkin tidak menjadi berita, tetapi masalah yang mereka hadapi sama nyatanya.


Oleh karena itu, bantuan pendidikan tidak seharusnya menunggu sebuah cerita menjadi viral. Kampus, pemerintah, perusahaan, alumni, dan masyarakat perlu memiliki jalur bantuan yang jelas, mudah ditemukan, dan cepat diproses. Anak dari keluarga tidak mampu seharusnya bisa mendapatkan pertolongan tanpa harus terlebih dahulu menunjukkan perjuangan ekstrem kepada publik. Kemampuan akademik seseorang tidak berhenti hanya karena keluarganya tidak memiliki ongkos perjalanan, perangkat belajar, tempat tinggal, atau biaya makan.


Perjalanan Basuni patut disegani, namun kesulitan yang dialaminya tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Ia menggunakan bajaj karena itulah pilihan yang tersedia, bukan karena orang tua harus menempuh perjalanan berat untuk membuktikan kasih sayang. Masyarakat boleh mengagumi ketangguhan keluarga tersebut, tetapi kekaguman itu harus diikuti upaya memperbaiki keadaan yang membuat mereka harus berjuang begitu keras. Sistem pendidikan yang baik seharusnya mencerahkan jalan, bukan hanya memberi tepuk tangan setelah seseorang berhasil melewati rintangan.


Kisah Andromeda juga menunjukkan bahwa teknologi dapat membuka akses belajar yang lebih luas. YouTube dan tryout dare memungkinkan seseorang mempersiapkan ujian tanpa mengikuti bimbingan belajar mahal. Namun keberhasilannya tidak berarti semua anak otomatis mempunyai peluang yang sama karena tidak semua keluarga memiliki perangkat yang mumpuni, internet stabil, ruang belajar tenang, dan waktu luang. Oleh karena itu, cerita ini sebaiknya menjadi inspirasi tanpa digunakan untuk menyalahkan mereka yang menghadapi keadaan yang berbeda.


Dukungan orang tua dalam kisah ini juga tidak hadir dalam bentuk uang yang besar. Dukungan itu terlihat dari kesediaan mendengarkan mimpi anak, memberikan kesempatan untuk mencoba kembali, dan menemani langkah-langkah yang penuh membersihkan. Basuni tidak memiliki banyak fasilitas, tetapi ia menggunakan apa yang tersedia agar anaknya tidak menghadapi perubahan besar dalam diri seseorang. Dari situ terlihat bahwa dukungan keluarga tidak selalu berarti seberapa banyak yang bisa diberikan, melainkan seberapa sungguh-sungguh mereka menjaga harapan tetap hidup.


Setelah tiba di Bandung, perjalanan Andromeda tentu belum selesai. Ia masih harus menjalani Tahap Persiapan Bersama, menjaga hasil akademik, berusaha masuk Program Studi Astronomi, dan menyesuaikan diri dengan kehidupan jauh dari keluarga. Perjalanan pendidikan selama beberapa tahun ke depan akan jauh lebih panjang dibandingkan perjalanan bajaj selama 24 jam. Mendapat bantuan kampus dan lingkungan yang mendukung menjadi penting agar ia mempunyai ruang untuk belajar dan berkembang.


Andromeda juga tidak seharusnya dibebani sebagai satu-satunya harapan untuk mengubah keadaan keluarga. Ia tetap menjadi seorang siswa yang membutuhkan waktu untuk belajar, beradaptasi, menghadapi kegagalan, dan tumbuh secara perlahan. Keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang diterima di kampus terkenal, tetapi tentang mempunyai kesempatan yang cukup untuk menjalani proses sampai selesai. Semua bantuan yang diterimanya merupakan bekal awal, bukan jaminan bahwa perjalanan berikutnya akan selalu mudah.


Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang bajaj kuning yang berhasil mencapai Bandung. Ini adalah cerita tentang mimpi yang sempat tertunda, namun tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Ini juga menjadi cerita tentang seorang anak yang belajar dengan fasilitas sederhana, keluarga yang menggunakan apa pun yang tersedia, serta orang-orang yang ikut membantu ketika perjuangan itu mulai terlihat.


Nama Andromeda memang berasal dari galaksi, sedangkan bidang yang ingin dipelajarinya berkaitan dengan bintang dan alam semesta. Namun pesan terpenting dari perjalanan ini bukan hanya kebetulan antara nama dan cita-citanya. Anak seorang sopir bajaj tetap berhak memiliki mimpi setinggi galaksi, dan latar belakang keluarga tidak seharusnya menentukan seberapa jauh seseorang boleh melangkah.


Bajaj itu telah mengantarkan Andromeda sampai ke Bandung. Setelah itu, perjalanan tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab tekad seorang anak dan mengorbankan keluarganya. Kampus, pemerintah, dan masyarakat juga perlu ikut membuka jalan agar mimpi yang sudah sampai di gerbang pendidikan benar-benar dapat tumbuh sampai selesai. Sebab pendidikan yang adil bukan hanya memberi kesempatan untuk masuk, tetapi juga memastikan seseorang mempunyai peluang untuk bertahan dan lulus.

---


#ceritainspirasi

Penafian:

Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.


(***)