JANGAN ASAL ISI SULINGJAR!
“Sekolah sebelah sudah 100%, sekolah kita kok masih 40%? Ayo buruan diisi!
“Ayo Bapak Ibu, segera isi Sulingjar. Kemajuan kecamatan kita masih rendah.”
——
Kalimat-kalimat di atas biasanya mulai menggema di grup-grup WhatsApp guru saat musim Pengawasan Lingkungan Belajar (Sulingjar) tiba.
Pengisian Sulingjar yang sebenarnya penting, tiba-tiba berubah jadi ajang lomba lari cepat antar sekolah antar kecamatan.
Demi mengejar tenggat waktu dan status gengsi 100%, pengisian Sulingjar sering kali berakhir tragis: diisi asal-asalan, yang penting kelar.
Padahal Pemerintah telah memberikan jangka waktu yang panjang agar kita bisa mengisi sulingjar dengan sebaik-baiknya, tanpa harus berlomba-lomba siapa yang duluan selesai.
Tapi guru malah memilih untuk kejar-kejaran. Seolah pengisian sulingjar adalah lomba berhadiah jutaan rupiah. Siapa yang cepat, dia dapat. Siapa yang cepat, dia keren.
Sehingga yang terjadi kemudian hanya asal isi. Asal selesai. Sekedar menggugurkan kewajiban.
Opsi-opsi jawaban dalam sulingjar diklik secepat kilat. Sat set sat set, tanpa dibaca, kelar itu barang.
Lalu dengan bangga bilang, "saya udah selesai nih. Kamu udah belum? Kok lama banget sih."
———
Jujur saja, kenapa sih banyak dari kita yang asal klik opsi di Sulingjar?
Jawabannya sederhana dan agak menyentil: soalnya panjang-panjang!
Betapa ironisnya.
Di era kita yang sering menagih siswa untuk memiliki kemampuan literasi tinggi, justru saat kita sendiri disodori narasi soal Sulingjar yang agak berbobot, kita sendiri sering kena jurus MB (Malas Baca).
Belum lagi kalau ketemu kalimat yang muter-muter. Alih-alih memahami maksud pertanyaannya, jemari ini refleks mengklik pilihan jawaban yang aman : yaitu “Sering" atau “Sangat Setuju".
Yang penting cepat kelar, aplikasi ditutup, lalu balik scroll medsos.
Padahal, dibalik kalimat-kalimat panjang itu, ada nasib sekolah kita yang dipertaruhkan.
———
Banyak yang mengira Sulingjar hanya formalitas pengawasan dari kementerian yang jika selesai diisi akan menguap begitu saja ke awan.
Kita tak tahu, Isi Sulingjar adalah bahan baku utama Rapor Pendidikan sekolah (selain Asesmen Nasional).
Dan Pemerintah menggelontorkan BOS Kinerja berdasarkan hasil yang tergambar dalam Rapor Pendidikan itu.
Jadi, sulingjar sangat penting!
Maka untuk yang bertanya-tanya , “Kenapa ya sekolah kita gak pernah dapat BOS Kinerja.”,
salah satu solusinya adalah, perbaikilah pengisian Sulingjar Anda!
———
Sulingjar itu bukan ujian kenaikan pangkat guru, dan tidak ada jawaban "salah" yang akan membuat kita dipanggil ke ruang pimpinan Dinas Pendidikan.
Sulingjar adalah wadah curhat resmi dan legal bagi para guru tentang kondisi nyata di lapangan.
Kalau fasilitas memang pas-pasan, jawab apa adanya.
Kalau merasa kurang dapat pelatihan yang relevan, akui saja.
Kalau iklim sekolah terasa kurang aman atau belum inklusif, tulis sejujurnya.
Jadi jawablah sesuai dengan apa yang dirasakan di kelas sehari-hari.
———
Untuk pihak-pihak yang mempunyai kewenangan, stop jadikan Sulingjar sebagai ajang lomba balap karung siapa cepat dia kelar.
Ciptakan rasa aman agar para guru tidak takut menjawab secara jujur.
Ingat, jemari yang asal klik hari ini bisa menentukan kerepotan kita mengajar sampai setahun ke depan.
Jangan asal isi Sulingjar!
Mari baca, pahami, dan jawab dengan jujur ??demi Rapor Pendidikan yang riil, sekolah yang lebih baik, dan siapa tahu... bonus kucuran BOS Kinerja untuk sekolah kita.
Penulis : Hj. Rohani, S. Pd (pengawas pendidikan Kota Bima.
(***)