Mengkritisi Para Kreator Pemula Di Bima Dompu....!!


Media sosial telah melahirkan profesi baru bernama pencipta konten. Banyak yang berhasil mengubah kreativitas menjadi sumber penghasilan. Itu patut diapresiasi. Namun, di balik peluang ekonomi yang besar, muncul gejala yang dikesampingkan: semakin banyak orang menganggap semua hal semakin layak dijadikan konten.


Hari ini, kami menyaksikan pertengkaran rumah tangga yang disiarkan langsung. Orang yang sedang bersumpah tanpa rasa sungkan. Kecelakaan menjadi tontonan sebelum korban mendapat pertolongan. Anak-anak diekspos tanpa mempertimbangkan jejak digital mereka di masa depan hanya demi mengejar perhatian publik.


Yang lebih memprihatinkan, aib seseorang diangkat menjadi bahan hiburan. Cuplikan video dipublikasikan tanpa konteks, identitas tidak disamarkan, lalu ribuan komentar berdatangan menghakimi. 


Dalam hitungan jam, seseorang bisa kehilangan nama baik, pekerjaan, bahkan ketenangan hidupnya— sementara pembuat konten memperoleh tayangan, pengikut, dan pendapatan.


Ironisnya, kemampuan membuat konten berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan memikul tanggung jawabnya. Kita berlomba menjadi yang paling cepat mengunggah, tetapi lupa bertanya: Apakah saya mengizinkan publikasi ini? Apakah orang tersebut memberi izin? Apakah masyarakat memang perlu mengetahui hal ini?


Padahal, dalam masyarakat yang berada, tidak semua yang bisa dilakukan berarti boleh dilakukan. Kebebasan berekspresi bukanlah kebebasan yang mengabaikan hak privasi orang lain. Teknologi memang memberi kita kamera dalam genggaman, tetapi pendidikan seharusnya memberi kita kebijaksanaan untuk mengetahui kapan kamera itu harus dimatikan.


Huru-hara di beranda akhir-akhir ini bukan semata-mata akibat algoritma atau monetisasi. Tetapi merupakan 'cermin' lemahnya literasi digital dan pendidikan karakter. 


Ketika etika kalah oleh angka tayangan, ketika empati dikalahkan oleh peluang mendapatkan dollar, dan ketika privasi dianggap sekadar bahan konten, yang kita pertaruhkan bukan hanya kualitas media sosial, melainkan juga kualitas kemanusiaan kita.


Jangan sampai air mata orang lain menjadi bahan tawa kita. Aib orang lain menjadi jalan rezeki kita. Dan penderitaan seseorang tangga menjadi untuk popularitas kita. 


Menjadi kreator yang hebat bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang melihat karya kita. Tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang lahir dari karya kita tanpa mengorbankan kehormatan orang lain.


“Sebelum menekan tombol unggah, tanyakan kepada hati mu : Jika ini terjadi padaku, apakah aku rela orang lain menyebarkannya?”.... Karena menjaga kehormatan orang lain adalah bagian dari menjaga kehormatan diri sendiri. 


(***)


Penulis Rangga Babuju (Dicopas via Facebook resminya per 02 Agustus 2026).