Tak selamanya pahlawan dan pejuang di akhir hidupnya bahagia, Sukarno contohnya

Mantan ajudan cerita kondisi Bung Karno saat diusir dari Istana Merdeka: "Tak punya uang sama sekali... Pada akhirnya dia dipenjara bangsanya sendiri"


Bung Karno diusir dari Istana Merdeka Jakarta pada pertengahan tahun 1967. Soal bagaimana Bung Karno harus meninggalkan Istana, mantan ajudan Sang Putra Fajar, Sidarto Danusubroto, bercerita untuk kita.


Dalam program Gaspol! Kompascom dia mengatakan, pada suatu hari, Bung Karno dilarang masuk ke Istana oleh petugas Korps Polisi Militer (CPM). “Saya antar Bung Karno makan sate di Tanjung Priok, lalu mau ke istana dilarang masuk oleh CPM waktu itu ya,” terangnya.


Saat itu secara de jure Bung Karno masih menjabat sebagai presiden ketika itu. Meskipun secara de facto kekuasaan sudah dipegang oleh Soeharto setelah meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965.


Sidarto menuturkan, ketika dilarang masuk Istana, Bung Karno hanya meminta diambilkan bendera pusaka yang tersimpan di Istana. “Dia hanya meminta ambil bendera pusaka… Tidak ada satu sen pun, tidak punya uang,” katanya.


Oleh karena itu, sebagai ajudan pun dia harus pontang-panting mencari uang untuk memenuhi kebutuhan harian Bung Karno. Tentu saja itu tidak mudah bagi pria kelahiran Yogyakarta itu.


Terlebih lagi, ketika itu, menurut Sidarto, banyak orang dekat Bung Karno yang menjauh ketika diminta bantuan karena mereka takut dikait-kaitkan dengan Bung Karno. Akhirnya, Sidarto bertemu dengan seorang kepala rumah tangga istana bernama Tugimin yang memberikan uang 10.000 dolar AS untuk Bung Karno.


Setelah mendapatkan uang, tugas Sidarto pun tidak mudah karena dia selalu digeledah setiap ingin bertemu Bung Karno di Wisma Yaso. Oleh karena itu, dia meminta bantuan anak Bung Karno, Megawati Soekarnoputri, untuk menyelundupkan uang tersebut.


“Saya minta tolong Mega, 'Mbak Mega, kalau saya digeledah'. Jadi ditaruh di bawah roti khong guan, kaleng ada rotinya di bawah dikasih uang dollar,” cerita Sidarto.


Meski tak ada keluh kesah dari BK, Sidarto memahami betul Bung Karno tampak kesepian dan kehilangan orang-orang di sekelilingnya. Kondisi ini yang kemudian memperparah sakit ginjal yang dideritanya. Ditambah lagi, pemerintahan saat itu menyempurnakan pengobatan Bung Karno.


Untuk berobat saja, Bung Karno harus meminta izin Pangdam Jaya. Resep-resep obat yang diberikan dokter juga tak pernah bisa ditebus. Perlahan namun pasti, kondisi fisik Bung Karno menurun hingga akhirnya ia wafat pada tanggal 21 Juni 1970.


Setelah keluar dari Istana Merdeka, Bung Karno “ditahan” di Wisma Yaso. Tanpa keluarga apalagi orang-orang kepercayaannya.


Sidarto juga bercerita tentang masa-masa sulit di Wisma Yaso itu. Menurutnya, ketika itu, Bung Karno tak punya uang juga kesulitan berobat saat sakit.


Dan bisa dibilang, Wisma Yaso adalah penjara terakhir bagi Bung Karno yang pada dasarnya tentu sudah tak asing lagi dengan hal itu. “Ya sepanjang hidupnya dia dari penjara ke penjara kan. Pada akhirnya, dia dipenjara oleh bangsanya sendiri,” kata Sidarto.


Sidarto pun membeberkan betapa nelangsanya kehidupan Bung Karno selama menjadi tahanan di Wisma Yaso. Anak-anak Bung Karno yang membawakan makan ke Wisma Yaso juga dipersulit dan diperlakukan tidak enak oleh petugas di sana. 


“Ada cerita, Guntur mengirim sayur lodeh, tapi diudek-udek pakai bayonet. Diperiksa kalau ada pistol atau apa enggak tahu lah, ya semua makanan diperiksa dari anak-anak,” ujar Sidarto.


Sidarto mengungkapkan, Bung Karno hanya diperiksa ke dokter, tetapi tidak boleh mengonsumsi obat yang direkomendasikan dokter. “Ya memang dibiarkan mati pelan-pelan, sangat tega,” ujar Sidarto.


Bung Karno mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto pada 21 Juni 1970, di usia 69 tahun. Bung Karno diketahui menderita penyakit batu ginjal, peradangan otak, jantung, dan tekanan darah tinggi sejak lama.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034387430/mantan-ajudan-cerita-bung-karno-saat-diusir-dari-istana-merdeka


(***)