PANGLIMA TNI AGUS SUBIYANTO SAHKAN DOKTRIN PERISAI TRISULA NUSANTARA KARENA PERANG DUNIA SUDAH BERUBAH TOTAL
Di sebuah ruang sidang di Kodiklat TNI, Serpong, Tangerang Selatan, pada Kamis 2 Juli 2026, sebuah dokumen yang telah melalui tiga putaran pengujian akhirnya mendapat tanda tangan resmi. Bukan sembarang tanda tangan — ini adalah pernyataan formal bahwa cara Indonesia bersiap menghadapi perang telah berubah.
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, didampingi Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R., mengesahkan Doktrin TNI Perisai Trisula Nusantara. Para pejabat utama TNI dari seluruh penjuru Indonesia mengikuti kegiatan secara hybrid — sebagian hadir langsung, sebagian terhubung melalui video conference dari markas masing-masing.
Agus tidak banyak basa-basi dalam arahannya. Ia langsung menunjuk pada kenyataan: perang yang sedang berlangsung di berbagai negara sudah tidak lagi mirip perang yang dipelajari generasi sebelumnya. “Perkembangan peperangan yang saat ini terjadi di berbagai negara menunjukkan perubahan yang sangat signifikan sehingga perlu menjadi perhatian kita bersama,” katanya.
Yang maksud sebenarnya adalah: drone kamikaze yang menghancurkan target ratusan kilometer jauhnya, kawanan drone gerombolan yang menyerang serentak dan sulit ditangkis satu per satu, sistem peperangan elektronik yang melumpuhkan komunikasi sebelum peluru pertama ditembakkan, hingga perang informasi yang merusak moral dan kepercayaan masyarakat tanpa satu pun prajurit bergerak. “Saya berpendapat bahwa memang sudah saatnya kita mengubah doktrin untuk menghadapi peperangan masa kini,” tegasnya.
Yang perlu dipahami: Perisai Trisula Nusantara bukanlah doktrin yang lahir dari nol. Kapuspen TNI Brigjen TNI Muhammad Nas meluruskan hal ini secara langsung. Menurut dia, doktrin baru ini merupakan penyempurnaan dari doktrin TNI yang sudah ada sebelumnya, yaitu Tri Dharma Eka Karma atau Tridek — sebuah filosofi militer yang bermakna "Tiga Pengabdian dalam Satu Karya," mengacu pada kesatuan arah antara TNI AD, AL, dan AU meskipun masing-masing memiliki tugas yang berbeda. “Jadi, bukan baru atau sebagai pengganti doktrin Tridek,” kata Nas kepada pers, Jumat (3/7/2026).
Konsep Perisai Trisula Nusantara sendiri sebenarnya sudah mulai diperkenalkan sejak tahun 2023, dan dipaparkan secara terbuka oleh Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Tonny Harjono pada Desember 2024. Trisula dalam nama ini melambangkan tiga ujung kekuatan yang bergerak bersama: Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara — satu perisai yang tidak bisa ditembus kecuali ketiga ujung patah sekaligus.
Secara substansial, doktrin ini memuat cetak biru pembangunan kekuatan trimatra terpadu, konsep operasi militer gabungan, dan integrasi elemen perang modern mulai dari kecerdasan buatan, kecerdasan berbasis jaringan, hingga kemampuan siber. Arahnya jelas: TNI yang PRIMA — Profesional, Responsif, Integratif, Modern, dan Adaptif.
Hari yang sama, Agus juga meresmikan sejumlah fasilitas pendukung di lingkungan Kodiklat TNI: Workshop Drone dan Artificial Intelligence, Stadion Tri Matra, Lahan Aplikasi Ketahanan Pangan, serta ruang makan siswa Perwira Prajurit Karier. Fasilitas-fasilitas itu bukan sekedar infrastruktur — semuanya merupakan wujud fisik dari gagasan yang baru saja diberi tanda tangan.
Doktrinnya sudah sah. Sekarang giliran prajurit yang membuktikannya di lapangan.
(***)