Jatibaru: Jejak Sejarah dan Pohon Jati dalam Cerita Rakyat Bima



Kelurahan Jatibaru, Kota Bima, sejak dahulu dikenal sebagai kawasan yang memiliki banyak pohon jati. Nama "Jatibaru" sendiri diyakini berkaitan erat dengan keberadaan pohon jati yang tumbuh subur di wilayah tersebut. Hingga saat ini, warisan tersebut masih dapat dilihat melalui usaha masyarakat yang mengembangkan industri mebel berbahan dasar kayu jati, yang menjadi salah satu mata pencaharian warga.


Selain dikenal sebagai sentra kayu jati, Jatibaru juga memiliki cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Berdasarkan cerita yang diperoleh penulis dari masyarakat Desa Ntoke, wilayah ini memiliki keterkaitan dengan perjalanan La Kai, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Abdul Khair I, Raja Bima pertama.


Dikisahkan bahwa La Kai sedang dikejar oleh La Salisi ketika melarikan diri dari Tanah Wera menuju Pulau Sangiang. Dalam perjalanan tersebut, La Kai bersama para pengawalnya berusaha menghindari kejaran musuh. Saat tiba di kawasan Jatibaru, para pengawal mengambil batang-batang kayu jati sebagai pijakan untuk dilalui oleh La Kai dan rombongannya. Tujuannya adalah menghilangkan jejak kaki agar tidak mudah diikuti oleh pasukan La Salisi.


Strategi tersebut kemudian digunakan ketika mereka melewati jalan yang berkelok-kelok, yang kini dikenal sebagai Ncai Kapenta. Dengan berpijak di atas kayu jati, jejak kaki rombongan menjadi sulit dilacak sehingga perjalanan mereka menuju tempat persembunyian dapat berlangsung lebih aman.


Meskipun kisah ini hidup dalam tradisi lisan dan belum didukung oleh bukti sejarah tertulis yang memadai, cerita tersebut menjadi bagian penting dari khazanah folklor masyarakat Bima. Cerita ini tidak hanya menjelaskan kedekatan Jatibaru dengan pohon jati, tetapi juga merefleksikan kecerdikan, strategi, dan nilai-nilai perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi.